Buku “Habibie The Series”, Cara Singkat Mengenal B.J Habibie

Bedah Buku The serries habibie

Bedah Buku The serries habibie

Masih berlanjut dari rangkaian acara pameran foto BJ. Habibie di Museum Mandiri yang telah dibuka pada 24 Juli 2016 lalu. Kali ini, saya menghadiri acara bedah buku Habibie The Series pada hari minggu 7 Agustus 2016. Acara bedah buku “Habibie The Series” dan Diskusi Publik Menggali Inspirasi dari 80 tahun Habibie adalah salah satu rangkaian dari acara yang digelar oleh Friends of Mandiri Museum bersama dengan Pameran Foto Habibie yang berlangsung dari tanggal 24 Juli – 20 Agustus 2016 di Museum Bank Mandiri, Kota Tua, Jakarta Barat. Memang sosok Eyang (sapaan akrab Pak Habibie) tidak banyak diketahui, terlebih buat saya dan mungkin teman-teman yang seumuran dengan saya dan acara seperti ini sangat penting untuk dihadiri supaya kita lebih mengenal lebih dalam sosok seorang inspirator.

Baca juga : Mengabadikan Sang Inspirator Dalam Pembukaan Pameran Foto BJ. Habibie

Kali ini saya tidak datang sendiri, bersama 3 orang teman yaitu Lina, Riana dan Muhzen yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP) Karawang. Kami menghadiri acara bedah buku “Habibie The Serries” pada sesi pertama dari total dua sesi yang ada. Tema sesi pertama dari acara bedah buku ini adalah “Mengulik Kepribadian Eyang Habibie Dalam Meraih Sukses“.

Bedah Buku The serries habibie

Dalam usianya yang tahun ini genap 80 tahun, BJ. Habibie (selanjutnya akan saya sebut Eyang Habibie) memang tidak henti-hentinya mampu menginspirasi banyak orang. Terlebih, bagi mereka yang memiliki hubungan dekat dengan Eyang. Seperti narasumber yang ada pada sesi pertama ini, yaitu Bapak Andi Makmur Makka mantan Pemred Harian Republika yang sekarang menjadi penggiat The Habibie Center dan Bapak Sutanto Sastraedja Dosen UNS yang juga merupakan salah satu tim penulis buku Habibie The Serries. Serta perbincangan pada sesi pertama ini dimoderatori oleh Bo’im Lebon yang merupakan salah satu penulis buku Lupus Kecil dan Lupus ABG.

Penyelenggara acara ini adalah Forum Lingkar Pena (FLP) yang tergabung dalam Friends Of Mandiri Museum yang bekerjasama dengan The Habibie Center, Penerbit Tiga Serangkai, Museum Mandiri, Bank Mandiri dan Lembaga Kursus Bahasa Asing Euro Management. Hadirnya saya dalam acara ini mampu membuat saya semakin lebih ingin mengenal sosok Eyang Habibie. Terlepas dari label Mantan Presiden RI ke-3, Eyang Habibie adalah orang yang cerdas pemikirannya, religius, penuh komitmen dan tanggung jawab, dan Eyang ini cukup romantis.

Dimulai dari Pak Andi M. Makka yang bercerita tentang bagaimana dia selalu memberi hadiah kepada Eyang setiap 10 tahun ulang tahun Eyang. Dan di usia Eyang yang tahun ini tepat 80 tahun, buku Habibie The Serries ini merupakan kado istimewa yang dipersembahkan oleh tim penulis kepada Eyang. Yang membuat saya kagum adalah 8 buku dalam Habibie The Serries ditulis dua setengah bulan sebelum hari ulang tahun Eyang.

Ada salah satu judul buku “Jangan Pernah Berhenti (Jadi) Habibie”, buku ini mengupas visi besar dan karya nyata Habibie untuk Indonesia yang telah tercurahkan semasa hidupnya. Ada satu judul yang mengupas apresiasi serta kekaguman masyarakat dalam format komik puisi, serta surat. Karena terlalu banyaknya surat yang masuk tentang Habibie, tidak semua surat mampu dicantumkan dalam buku.

Kemudian kesempatan Pak Sutanto untuk menceritakan tentang Eyang Habibie. Eyang Habibie termasuk orang yang tidak terlalu suka dengan tontonan sinetron, tapi Alm. Ibu Ainun sangat suka salah satu judul sinetron, yaitu Cinta Fitri. Bahkan, ketika Alm. Ibu Ainun ingin pergi keluar negeri produser dari sinetron Cinta Fitri selalu memberikan CD yang berisikan episode-episode yang bahkan belum tayang di TV untuk Alm. Ibu Ainun agar tidak tertinggal oleh alur ceritanya. Yang unik adalah ketika disuatu kesempatan, Eyang Habibie mendampingi Alm. Ibu Ainun menonton sinetron Cinta Fitri dan kemudian Eyang Habibie pun menjadi suka dan menikmati alur cerita dari sinetron Cinta Fitri.

Eyang Habibie ini ibarat fungsi dalam sebuah teori matematika dan juga fungsi dalam pemikiran. Pak Sutanto pun sempat menulis beberapa catatan tentang Eyang Habibie dan di share di media sosial miliknya agar anak-anak muda (termasuk saya) dapat mengenal dan mengambil teladan serta inpirasi dari sosok Eyang. Bahkan anak Pak Sutanto baru mengenal Eyang Habibie dari film Habibie & Ainun. Kalau saya? Saya tertarik mengenal Eyang Habibie dari mata kuliah Pancasila & Kewarganegaraan yang menyinggung persoalan tentang Timor Timur.

Panjang kali lebar kedua narasumber ini menjelaskan tentang kepribadian Eyang Habibie yang sepatutnya dijadikan contoh untuk generasi-generasi sekarang dan seterusnya. Sesi pertama ini ditutup dengan menjawab pertanyaan dari peserta yang hadir. Ada 4 pertanyaan, salah satunya adalah pertanyaan dari saya yang intinya “Adakah hal lain yang ingin dilakukan untuk membuat generasi muda sekarang ini berminat untuk mengenal sosok-sosok Presiden terdahulu selain melalui buku?”

Yak, memang sih, kalau kita ingin mengenal dunia maka bacalah. Termasuk kalau ingin mengenal seorang inspirator secara mendalam ya bacalah biografinya. Kalau saya yang memang suka baca itu tidak masalah walaupun cendrung ke novel sih, nah bagaimana teman-teman saya yang tidak?.

Acara bedah buku seperti ini sangat membantu buat yang tidak ingin membaca buku yang tebal-tebal tapi ingin mengetahui inti sari dari buku-buku tersebut. Inilah bentuk Cinta Sang Inspirator Bangsa Kepada Negeri. @Arstory

Terima kasih sudah membaca artikel "Buku “Habibie The Series”, Cara Singkat Mengenal B.J Habibie". Jika artikel ini bermanfaat jangan lupa di share ya :). Baca juga artikel terkait "Buku “Habibie The Series”, Cara Singkat Mengenal B.J Habibie".

Maaf ya, Menghindari modus spam dan sejenisnya, komen saya moderasi. Terimakasih ^_^

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*