Ke Curug Lalay Bersama Backpacker Karawang

Perjalanan saya bersama teman-teman Backpaker Karawang (BPK) pada kali ini bertujuan untuk menemukan sebuah curug. Curug ini belum terlalu terkenal di Karawang dan sekitarnya. Menjadi sebuah kesenangan tersendiri ketika kami menemukan curug ini. Namanya adalah Curug Lalay. Katanya sih Curug Lalay tempat indah di balik keindahan.

Curug Lalay? Ya, saya sempat berpikir curug ini tempat favorit anak-anak alay. Nyatanya dalam bahasa sunda lalay itu berarti kelelawar. Hehe. Jika dibandingkan Curug Cigentis, Curug Lalay ini namanya belum terlalu terkenal. Saya dan rombongan teman-teman Backpaker Karawang pada hari minggu kemarin (11 Oktober) melakukan explore Curug Lalay. Explore? Udah kaya ‘wah’-nya aja.

12074590_10204913737784896_6280679342309843792_n

Karena tempat berkumpul sebelum keberangkatan berada di Karawang, saya dan seorang teman akhirnya pergi ke Karawang pada sabtu malamnya. Menginap di rumah saudara. Total peserta dalam ekspedisi ini sekitar 30-an orang (lupa pastinya). “Ngumpul jam 05.30 di lampu merah by pass” kurang lebih seperti itu perjanjian yang dibuat untuk pergi ke Curug Lalay. Walaupun nyatanya saya baru berangkat jam 05.55, hehe. Maklum lah, numpang tidur di rumah saudara masa iya subuh-subuh sudah nyelonong keluar sebelum tuan rumah bangun.

Perjalanan dimulai. Dari 30-an orang peserta yang tergabung dalam Backpaker Karawang, ada sebagian menggunakan angkot dan ada sebagian menggunakan sepeda motor. Kebetulan saya mengendarai motor, jadi gak bisa foto-foto. Sekitar 2 jam perjalanan motor dari Kota Karawang, kami sampai ke daerah Loji. Curug Lalay memang terletak di daerah Loji Karawang, yang saya ingat sih cuma ini nama daerahnya. Maklum, kemampuan daya ingat saya kalau soal nama daerah itu kurang. Tapi, kalau jalannya Insyaallah masih ingat.

Eits, jangan kira kami sudah benar-benar sampai ke curugnya. Kami baru sampai di area parkir. Karena, kabarnya trek untuk mencapai Curug Lalay ini selama 3 jam. ‘Ini ke curug apa naik gunung’ saya pikir. Rombongan belum terkumpul semua, sembari menunggu rombongan penunggang angkot datang. Saya menyempatkan diri untuk sarapan, maklum berangkat pagi, gak sempat makan.

Tepat pukul 09.30 setelah semua peserta explore Curug Lalay berkumpul. Kami pun memulai perjalanan menuju Curug Lalay yang katanya bisa sampai 3 jam perjalanan ini.

Trek yang kami lalui beragam, dari melewati saluran irigasi sawah, menyusuri aliran sungai yang kering, melewati petak-petak sawah, dan ada beberapa saat menanjak seperti mendaki gunung. Pemandangan yang didapat selama perjalanan pun tidak kalah indah. Kita bahkan bisa melihat dari kejauhan tajamnya puncak Gunung Sulah.

Saluran Irigasi Sawah

Pada awal perjalanan kami sedikit menyusuri irigasi sawah yang keadaanya sedang mengering karena faktor musim kemarau. Setelah beberapa menit kami menyusuri saluran irigasi tersebut, kami menemukan sebuah bendungan yang lagi-lagi kondisinya sedang mengering.

Menyusuri Aliran Sungai

Setelah irigasi dan bendungan kami lewati. Dengan menyusuri jalanan setapak dan mengikuti alur jalan tersebut, kami akhirnya berjalan diatas aliran sungai yang mengering. Ini menjadi keuntungan, karena kalau pada musim penghujan tentu debit air tinggi dan akan membuat jalur menuju ke Curug Lalay ini akan berbeda dari yang kami lalui.


Melewati Petak Sawah

Ini adalah bagian paling indah menurut saya ketika melakukan perjalanan ini. Hamparan luas sawah yang hijau dan terlihat rapih memberikan keindahannya tersendiri bagi saya. Dengan jalan setapak, rombongan kami berjalan rapih. Karena saya kebagian bagian paling belakang, pemandangan ini juga memberi kesan tersendiri bagi saya.


Selain itu, ada pemadangan yang tak kalah indah. Yaitu, Gunung Sulah. Menjulang tinggi, dengan puncaknya yang tajam, gagah menentang matahari.

Selama perjalanan, jangan khawatir akan haus. Karena akan ada beberapa saung yang menyediakan makanan dan air es yang akan menyegarkan tenggorokan. Selain itu, warga desa yang beraktifitas di sana ramah-ramah, mereka tidak segan untuk menyapa walaupun hanya sekedar “Ke curug..?”

Ada yang berjalan membawa sekarung penuh rumput, entah buat apa, mungkin untuk pakan ternaknya. Ada yang membawa bongkahan kayu. Ada yang sedang sibuk menanam padi dan membajak sawah. Dan… Ada seorang anak kecil manis berdiri di dalam saung di tengah sawah. Sampai saya menemui anak kecil tersebut, kira-kira perjalanan kami sudah hampir 2 jam.


Dan, memang benar, perjalanan dari area parkir kami sampai ke Curug Lalay memakan waktu +/- 3 jam. Bukan isapan jempol kaki belaka. Sebelum benar-benar sampai ke curug. Kami melewati jalanan menanjak dan area pohon kopi milik warga.

Akhirnya, kami rombongan dari Backpaker Karawangan sampai di Curug Lalay. Perjalanan selama 3 jam tersebut tidak terasa, semua terbayan lunas-tuntas. Selama perjalanan juga kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa indah yang mampu mengusir rasa lelah.

Curug Lalay ini terkesan bertingkat seperti anak tangga, dan ada 1 tingkatan yang paling tinggi. Saat itu, debit air memang kurang besar karena memang sedang musim kemarau panjang. Dilihat dari lokasi area curugnya, tidak bisa dilakukan kegiatan camping. Kalau mau camping, berarti harus turun sedikit dari area curug. Ada 1 tingkatan yang tidak terlalu tinggi, disini menjadi tempat bermain seluncuran (bahasa yang pas apa ya?) ataupun atraksi terjun bebas ke dalam air.


Jadi, istilah curug lalay tempat indah di balik keindahan bukanlah bualan. Tidak hanya curugnya, jalur yang dilalui juga sangat indah. Tidak berat dan sulit kok jalurnya, cukup mudah. Keindahan seperti ini tetap tidak ada artinya jika kita tidak merawatnya. Tetap lestarikan alam ya kawan! 🙂 – Arstory.net

Terima kasih sudah membaca artikel "Ke Curug Lalay Bersama Backpacker Karawang". Jika artikel ini bermanfaat jangan lupa di share ya :). Baca juga artikel terkait "Ke Curug Lalay Bersama Backpacker Karawang".

Maaf ya, Menghindari modus spam dan sejenisnya, komen saya moderasi. Terimakasih ^_^

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*