Perjalanan Ke Dataran Tinggi Dieng Wonosobo

DCIM100GOPROGOPR1220.

11 november kemarin aku berkesempatan melakukan perjalanan ke dataran tinggi di Dieng, Wonosobo. Ini adalah kesempatan pertama ku untuk bisa menikmati desa Dieng yang beberapa waktu sebelumnya telah menyelenggarakan Dieng Culture Festival. Aku pikir Dieng adalah desa yang sangat indah walaupun terletak di ketinggian. Di kesempatan sebelumnya saya juga pernah bercerita tentang perjalanan menuju Curug Lalay bersama Backpacker Karawang.

Sebelum bercerita tentang Dieng, aku akan berikan sedikit gambaran detil tentang perjalan menuju Dieng dari Jakarta.

Kami semua berjumlah 6 orang, berangkat dari Jakarta menggunakan kereta malam dari stasiun  Senen, jigijak gijuk gijak gijuk, hehe. Tujuan kami adalah stasiun Purwokerto, inget ya Purwokerto bukan Purwakarta. Jangan tanya kelas apa yang kami gunakan, sebagai pendaki-pendaki bermodal tipis, kami tentu menggunakan kereta kelas ekonomi. Perjalanan dari stasiun Senen sampai dengan stasiun Purwokerto ini memakan waktu selama 5 jam.

Dari stasiun Purwokerto, kami melanjutkan perjalanan ke terminal Purwokerto menggunakan angkot. Angkotnya berwarna orange dan biasanya sudah nge-tem di depan stasiun, jarak antara stasiun dan terminal ini gak jauh kok, kira-kira 15 menit kami sudah sampai di terminal. Setelah sampai di terminal Purwokerto, kami langsung bertanya ke orang yang ada disana, “Mau ke Dieng, naik apa?” lalu kami diberi tahu untuk naik sebuah bis yang bertujuan ke terminal Wonosobo.

DCIM100GOPROGOPR1202.

Perjalanan selama 3 jam kami lalui dari terminal Purwokerto ke terminal Wonosobo. Aku gak bisa jelasin gimana pemandangan perjalanannya, sedikit sih yang aku inget, banyak pemandangan sawah, sisanya aku tidur, hehe. Nah, dari terminal Wonosobo ini, kami melanjutkan perjalanan menuju Dieng menggunakan mobil minibus. Oiya, untuk masalah minibus ini kami harus sedikit ekstra nego biaya, karena yang ditawarkan agak tidak wajar. Kalau bingung minibusnya yang seperti apa, jangan takut nanya, orang-orang disana ramah kok, pasti dikasih tahu, kami juga gitu.

Dari Wonosobo ke Dieng ini kurang lebih 1 jam. Disini aku melihat kalau Wonosobo ini memang indah, beberapa kali kami melewati jalanan yang pinggirnya ada sungai, ehh? Lebih tepatnya sih kalau di Jakarta itu parit. Tapi, parit disana bersih, air nya mengalir lancar tanpa ada sampah yang terlihat. Dan juga ada beberapa trotoar jalan yang dihiasi dengan kemarik warna-warni. Duuh, ini Wonosobo sudah bersih, rapih lagi ya. Selain itu ketika mobil sudah memasuki dataran tinggi (sebelum Dieng) kita akan menyaksikan indahnya hamparan perkebunan yang ada di lereng-lereng bukit. Terasiring, tersusun rapih dan hawa dingin nan sejuk mulai menyelimuti dan membelai mesra tubuh ini (ini bahasanya apa coba?).

Tujuan kami ke Dieng adalah untuk mendaki Gunung Prau / Gunung Prahu (yang akan saya tulisakan di tulisan berikutnya). Sebenarnya kami tidak benar-benar sampai di Dieng, kami turun di Patak Banteng dan memilih homestay disana. Jarak antara Patak Banteng dan Dieng tidak jauh, hanya 10 menit menaiki minibus yang sama yang kami naiki ketika dari Terminal Wonosobo.

Sesuai dengan julukannya Negeri di atas awan, surga yang tersembunyi Dataran Tinggi Dieng, Dieng memiliki udara sejuk yang menurut ku lebih ke dingin. Sejauh mata memandang kita akan banyak menemukan pertanian-pertanian penduduk. Kentang, bawang, wortel, kubis, dan sayur-sayuran, selain itu ada tanaman yang paling khas dari Dieng ini, yaitu Carica / Pepaya Gunung. Pohon Carica sangat persis dengan pohon pepaya, tapi buahnya kecil-kecil, hanya sekepalan tangan. Dan warga setempat biasa mengolah carica ini menjadi manisan carica. Hmm… Memang kalau gak dibuat manisan rasa asli buahnya seperti apa ya? Aku belum tahu.

Selain perkebunan, ketika kalian memasuki Desa Dieng. Kalian juga akan menemukan homestay-homestay atau tempat penginapan sepanjang jalan. Karena mengingat Dieng memang tempat wisata yang cukup favorit dikunjungi di Jawa Tengah. Apalagi kalau acara tahunan Dieng Culture Festival diselenggarakan, ribuan orang akan memadati jalanan dan memenuhi penginapan, hal ini saya dapatkan ketika bertanya kepada pemilik penginapan yang kami tempati. Bahkan, macet panjang kendaraan yang ingin ke Dieng tidak dapat di hindari.

Sebenarnya kami tidak banyak berjalan-jalan di Dieng, kami hanya mendaki Gunung Prau dan sedikit mengunjungi Candi Arjuna (ini juga akan saya tulis di artikel berikutnya). Tapi, tidak hanya Gunung Prau dan Candi Arjuna yang menjadi objek wisata di Dieng. Ada beberapa tempat-tempat wisata lain yang ada di Dieng ini yang saya dapat infonya dari pemilik Homestay yang saya tempati. Hmm… Satu lagi, bagi kalian yang berkantong tipis seperti kami dan ingin homestay yang bisa kalian sendiri tentukan biayanya, nanti saya akan tuliskan juga di artikel selanjutnya.

Beberapa Tempat Wisata  Yang Bisa di Kunjungi di Dieng

– Bukit Sikunir
– Telaga Warna
– Telaga Pengilon
– Telaga Merdada
– Kawah Sikidang
– Dieng Plateu Theater
– Gardu Pandang Tieng
– Batu Ratapan Angin
– Telaga Cebong
– Sumur Jala Tunda

Dieng selalu membuat setiap pengunjungnya ingin berlama-lama disana, suasana yang tenang, pemandangan yang indah, penduduk yang ramah, membuat kombinasi yang selalu orang lain rindukan. Apalagi, buat orang-orang yang penat dengan aktifitas perkotaan.

Nah, seperti itulah perjalan kami ke dataran tinggi Dieng. Yaah, ini baru catatan kecil perjalanan aku disana, karena memang disana aku tidak jalan-jalan kebanyak tempat, hanya ke Gunung Prau dan Candi Arjuna. Maklum, kantong tipis, hehehe. – Arstory.net

Terima kasih sudah membaca artikel "Perjalanan Ke Dataran Tinggi Dieng Wonosobo". Jika artikel ini bermanfaat jangan lupa di share ya :). Baca juga artikel terkait "Perjalanan Ke Dataran Tinggi Dieng Wonosobo".

Maaf ya, Menghindari modus spam dan sejenisnya, komen saya moderasi. Terimakasih ^_^

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*