Desa Dieng dan Sembungan, Puncak-puncak Yang Didaki

Desa Dieng
D-I-E-N-G

“Gimana, Ri? Kita nekat atau kita cancel dulu?” ucap Maman melihat kondisi cuaca yang tidak mendukung. “Cancel aja, kita ganti besok. Nah jadwal besok bisa kita ubah hari ini.”
Semesta sore itu sepertinya memang tidak mengijinkan kami untuk melakukan pendakian. Hujan deras tanpa tanda-tanda reda membuat saya dan Maman memutuskan untuk membatalkan pendakian hari itu. Toh, libur panjang kita masih 3 hari lagi.

Setelah dijelaskan alasan dan pertimbangan untuk membatalkan pendakian hari itu, akhirnya kami menunggu hujan reda di depan dinding bertuliskan DIENG yang menjadi iconic desa ini. Tak selang lama, Mas Hamdi datang dengan sepeda motor sambil membawa payung. “Mas, ini ketinggalan,” ucapnya sembari menunjukkan charger dan battery. “Wah Mas, kebetulan, ini kami enggak jadi naik.”

Mas Hamdi adalah warga asli Desa Sembungan yang terkenal dengan Bukit Sikunir, Desa Sembungan sendiri terletak di atas Desa Dieng dan merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian desanya sudah di atas 2000-an mdpl. Kami mengenal Mas Hamdi dari Maman, dia juga mantan anak gimbal yang pernah melakukan tradisi potong rambut gimbal. Enggak heran kalau dia tau sejarah dan tempat-tempat wisata di Dieng – Sembungan yang belum ramai dikunjungi.

Masyarakat dieng
Mas Hamdi yang pakai peci

“Yaudah kalau gitu, ke tempat Mbak saya aja dulu. Nanti malam nginap di rumah saya aja, di Sembungan.” ajaknya dengan logat khas Jawa yang masih kental. Setelah hujan reda kami berjalan kaki ke rumah Mbaknya Mas Hamdi yang tidak jauh dari pertigaan Dieng ke arah Telaga Warna. Sebenarnya kami sudah singgah di rumah ini tadi pagi sampai siang hari dan sudah berpamitan untuk mendaki Gunung Prau. Tapi, karena cuaca tidak mendukung terpaksa kami harus kembali lagi.

Sembari menunggu waktu malam tiba, kami melewati sore itu dengan mengobrol banyak hal dengan Mas Hamdi. Terlintas dalam pikiran saya untuk mencicipi bagaimana rasa buah Carica. Dari pengakuannya, buah ini memang cuma ada di Dieng, dia juga pernah mencoba menanam biji buah pepaya yang didapat dari dataran rendah namum ketika tumbuh menjadi Carica. Unik, ya. Untuk memuaskan rasa penasaran kami, Mas Hamdi mengajak kami untuk langsung memetik buah Carica di kebun milik Kakaknya. Dengan antusias saya mengambil beberapa buah.

Buah carica dari dieng
Carica segar,

Setelah dikupas kulitnya, Carica lebih nikmat dimakan dengan biji-bijinya. Rasanya seperti sirsak tapi jauh lebih tidak asam dan tidak manis, rasa daging buahnya juga lebih ke hambar, teksturnya juga kenyal. Pantas saja buah ini banyak dijadikan manisan atau selai.

Banyak hal yang disampaikan Mas Hamdi. Tentang kualitas kentang Dieng yang terbaik, tentang ’embun upas’ yang merusak tanaman tapi jadi tontonan, tentang penyakit daun layu yang belum bisa mereka atasi, tentang wisata di Dieng dan Sembungan, dan tentang banyak hal terkait Dieng. Selain menjadi petani kentang, dia juga menjadi tour guide. Tak heran kalau pengetahuannya tentang desa Dieng dan Sembungan sangat luas.

Matahari sudah kembali ke peraduannya, udara terasa lembab karena sisa-sisa hujan sore tadi, suasan sunyi mulai membuat kami lupa akan beban hidup di kota. “Tasnya tinggal disini aja, bawa barang-barang yang perlu aja untuk ke Sikunir besok.”

Malam itu, kami beranjak dari desa Dieng ke desa Sembungan dengan jalan kaki. Jalan kaki? Iya, jalan kaki. Padahal kami berjalan selepas maghrib tapi suasana sudah sepi, jalan-jalan hanya dilewati satu-dua kendaraan. Kemana orang-orang, batinku. Nasib baik menyertai kami, ide gila memang berjalan kaki dari Desa Dieng ke Sembungan. Tak jauh kami berjalan ada sebuah mobil minibus yang berhenti dan mengajak kami untuk naik menuju desa Sembungan. “Kami ini mau ke rumah Mas Hamdi,” ujar Maman kepada pengendara mobil. Setelah ngobrol, kami tau kalau rumah bapak ini tidak jauh dari rumah Mas Hamdi.

Bukit Sikunir Dengan Kabut Tebalnya

Desa Sembungan, Desa tertinggi di pulau jawa
Welcome to Sembungan Village. Highest Village on Java

Sayup-sayup suara adzan subuh terdengar dari pinggiran desa, perlahan-lahan semakin jelas. Saya yang terbangun dibalik selimut tebal mulai mengumpulkan kesadara. Ternyata Wulan, Riana dan Dede sudah bangun juga, sedangkan Maman dan Kori (berasal dari nama asli Kurniawan) masih terlelap dibalik selimut dan sleeping bagnya. Seperti rencana kami, pagi ini kami akan pergi ke Bukit Sikunir. Bergegas saya mengambil air wudhu dan pergi ke masjid yang berada cukup dekat dari rumah tempat kami menumpang tidur. Jika ingin mencari homestay atau tourguide saat berkunjung kesini, bisa lihat-lihat di wisatadiengsikunir.com

Masjid-masjid di Desa Sembungan ini cukup unik, sepengelihatan saya, setiap masjid memiliki 2 lantai. Lantai pertama dikhususkan untuk wanita dan lantai kedua dikhususkan untuk laki-laki, dimana mimbar tempat imam berada di lantai dua, dengan posisi berada dibawah atau tidak sejajar dengan para makmumnya. Posisi imam harus menuruni 2 anak tangga, menurut pengakuan Wulan, dari tempat wanita imam hanya terlihat kakinya saja.

Bukit SIkunir
Fotonya setelah turun, waktu naik enggak kelihatan

Pukul 5.30, setelah semua siap kami beranjak menuju Bukit Sikunir berjalan kaki karena jarak antara rumah dan Bukit Sikunir tidak terlalu jauh. Satu-dua motor ojek yang bergantian datang dari Desa Dieng membawa para pelancong seperti kami yang ingin menikmati bukit Sikunir. Area parkir yang disediakan juga terlihat penuh oleh mobil-mobil pribadi dan minibus. Ini menandakan bahwa Bukit Sikunir akan penuh sesak oleh para pengunjung. Terlihat juga beberapa tenda yang berada di sekitaran Telaga Cebong.

Mendaki Bukit Sikunir memang tidak perlu repot, jalurnya pertamanya sudah dicor dan sisanya sudah diberi tangga-tangga batu, hanya bagian atas saja yang masih berlapis tanah. Kami yang memang datangnya sudah terlambat harus mengantri naik dengan berbagi jalur kepada para pengunjung lainnya yang hendak turun. Sejak naik, saya tidak melihat tanda-tanda semburat jingga ditepian cakrawala.

Disepanjang jalur mendaki Bukit Sikunir, terdapat beberapa plang. Plang-plang ini bukanlah penunjuk jalan melainkan pengingat kepada Sang Pencipta. Salah satunya seperti di bawah ini.

Bukit Sikunir

“Kabut…” Tidak ada pemandangan lain selain kabut tebal yang menyelimuti Bukit Sikunir pagi itu. Bukit Sikunir yang terkenal dengan Golden Sunrise-nya tidak menunjukkan keindahannya pagi itu, semua pengunjung harus puas dengan pemandangan berlatar putih yang membatasi pengelihatan sekitar 15-20 meter. Kami masih berusaha untuk menunggu setitik anugerah, siapa tau kabut akan menghilang dan kami mendapatkan pemandangan Gunung Sindoro. Tapi, bagai pungguk merindukan bulan, alih-alih mendapatkan pemandangan Gunung Sindoro, sesampainya kami di puncak Sikunir, hujan yang ditemani angin malah menyambut kami.

Bukit Sikunir di Dieng, Sembungan
Kabutnya tebel banget….

“Mas, mas-nya pengunjung atau warga sini?” tanya seorang ibu yang berada di gubuk yang ada di puncak Sikunir. Mungkin ibu itu heran melihat penampilan saya yang memakai peci, berbalut sarung, dan mengenakan sendal jepit. “Saya pengunjung kok bu,” jawab saya sembari menunggu yang lain datang untuk berteduh.

Setelah hujan reda, kami pun bergegas untuk turun, khawatir hujan akan turun lagi. Benar saja, hujan lebat turun lagi setelah kami hampir sampai ke warung yang berada di bawah Bukit Sikunir. Sesampainya di warung, kami yang lapar memesan beberapa makanan, salah satunya Tempe Kemul dan Rendang Kentang, makanan khas disini. Tempe kemul ini enggak jauh beda sama Tempe Mendoan, cuma bedanya kalo mendoan itu setengah matang, kalau Tempe Kemul ini benar-benar matang. Sedangkan Rendang Kentang berbeda dengan rendang sebenarnya, ini cuma olahan kentang yang berukuran kecil dengan bumbu-bumbu yang saya tidak tau. Karena penampilan luarnya seperti rendang, mungkin itu alasan disebut Rendang Kentang. Rasanya juga manis.

Telaga Cebong di Sembungan
Suasana Telaga Cebong setelah cerah

Hujan reda dan perut sudah terganjal, kami pun akhirnya bergegas menuju rumah Mas Hamdi untuk kemudian kembali ke Desa Dieng dan bersiap-siap mendaki Gunung Prau. “Lihat, itu Telaga Cebong!” sepanjang perjalanan, kami yang terkesima dengan pemandangan telaga yang terletak diantara Desa Sembungan dan Bukit Sikunir ini. Tak ayal, berbagai sudut kami coba untuk mengabadikan pemandangan Telaga Cebong dengan kamera.

Pendakian Gunung Prau Semesta yang Merencanakannya

Basecampt Gunung Prau di Dieng
Basecamp baru pendakian Gunung Prau via Dieng

Setelah berpamitan dari rumah Kakak Mas Hamdi di Dieng, kami menuju basecamp pendakian Gunung Prau yang lama yang berada di pertigaan desa. Disana kami berjanjian dengan dengan dua orang yang belum pernah saya bertemu. “Astri” sambut saya yang bermaksud memperkenalkan diri tapi malah salah mengucap nama sendiri. “Loh, kok Astri, itukan nama gue?!” tukas perempuan itu. Saya sambil menepok jidat dan kemudian kembali mengenalkan diri bahwa nama saya adalah Ari. Ternyata Astri kesini bersama suaminya, Satria.

Setelah kami mengurus simaksi di basecamp pendakian Gunung Prau via Dieng yang baru, akhirnya kami memulai mendaki Gunung Prau yang sempat tertunda. Cuaca siang itu cukup cerah, langit biru yang ditemani awan-awan kecil, jauh sekali dari pertanda hujan akan datang.

Sebelum kita benar-benar masuk ke dalam jalur pendakian Gunung Prau via Dieng. Pertama-tama kita akan melewati perkebunan kentang warga. Dilihat kiri dan kanan tanaman kentang yang menjadi komoditas utama masyarakat Dieng. Ada yang sedang dipupuki, ada yang masih bibit, ada yang sedang dipanen. Kentang yang bisa tumbuh sepanjang tahun tidak memerlukan hari atau bulan-bulan tertentu untuk panen raya.

Jalur Pendakian Gunung Prau via Dieng
Jalur Pendakian Gunung Prau via Dieng

Setelah berjalan sekitar 30 menit, pintu masuk jalur pendakian Gunung Prau menyambut kami. Pendakian Gunung Prau via Dieng ini termasuk jalur yang sangat mudah. Baru memasuki jalur pendakian, kami sudah kehilangan jejak Astri dan Satria. “Mentang-mentang mau honeymoon,” gumam saya.

Saya yang memperkirakan pendakian bisa sampai 5 jam nyatanya hanya 3 jam. Riana dan Wulan yang saya khawatirkan akan berjalan lama entah kenapa sepertinya mereka memiliki ambisi cukup tinggi yang membuat mereka berjalan cukup teratur. Wulan dan Dede dulu pernah mendaki bersama saya di Gunung Merbabu, Riana dan Wulan pernah juga ke Gunung Parang di Purwakarta (Belum saya tulis) sedangkan Maman dan Kori baru pertama kali saya mendaki bersama mereka. Kalau Maman, sudah saya ukur lah, dia ini soal mendaki gunung sudah kemana-mana, enggak diragukan. Kalau Kori, dengan jiwa anak sekolahnya, dia pasti ngikut aja, walau capek dia enggak ngeluh, jangankan ngeluh, pasti berkomentar saja enggan.

Matahari perlahan-lahan kembali ke perduannya, kami harus segera mendirikan tenda. Tenda kami berdiri di pinggiran jalan, hanya beberapa meter sebelum puncak Gunung Prau. Kami segera memasak makanan sederhana untuk mengisi perut yang sudah lapar. Setelah kenyang, saya mencoba mengecek sinyal handphone, dan ternyata disana saya mendapatkan sinyal internet, akhirnya kami iseng melakukan live streaming di Instagram dan saya menelpon seseorang melalui layanan voice call. Lokasi kami nge-camp memang tidak terlalu jauh dari menara pemancar sinyal yang ada di Gunung Prau.

Pemandangan malam dari Puncak Gunung prau
Tried to make a milky way

Malam pun hinggap, dingin menemani, bintang menari dan sepi menanti
Hanya ada kacang serta kopi dan sebuah roti untuk menemani
Lapar memang, mengantuk itu pasti.. tapi kami tidak ingin membunuh malam ini — “Travelling is like flirting with life. Its like saying “I would stay and love you, but I have to go;this is my station” – Lisa St. Aubin de Teran

Malam dengan angin yang tenang, awan yang tak menghalangi bintang gemintang dan suasana tenang khas pegunungan, siapa yang rela menyia-nyiakan momen ini? Mari bersiesta, melupakan hiruk-pikuk kehidupan di kota, bercanda laksana tak ada beban di dalam jiwa, bercerita ditemani suara-suara serangga, bintang menjadi saksinya bahwa, malam itu kita bahagia.

***

Deru langkah para pendaki lainnya yang terdengar membangunkan saya, tak selang lama alarm berbunyi. Jam 4.30, saya terbangun dan bersiap-siap untuk menuju Bukit Teletubies dengan memasak oat serta membangunkan yang lainnya. Setelah semua siap, kami beranjak jam 5.30, waktu yang berjalan lambat tidak membuat kami memaksakan diri harus menikmati sunrise. Nikmati saja setiap waktu perjalananmu, selalu ada sisi baik diantaranya.

Bukit teletubies Gunung Prau
Teletubies, teletubies… Ucapkan “hallo…!”, A O…

Untuk mencapai Bukit Teletubies yang memiliki pemandangan sabana dan bukit-bukit sepanjang mata memandang, kami harus turun terlebih dahulu dari puncak Gunung Prau. Bukit Teletubies ini adalah area camping ground di Gunung Prau, kalau kita mendaki Gunung Prau melalu jalur Patak Banteng, kita akan langsung memasuki area Bukit Teletubies dengan spot andalan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Sedangkan kalau mendaki melalui Dieng, kita akan mencapai Puncak Gunung Prau terlebih dahulu yang ditandai dengan sebuah tanda yang dibuat menggunakan cor-coran semen yang berada sebelum turunan menuju Bukit Teletubies.

1 jam perjalanan kami lalui tanpa hambatan, beberapa titik diperjalanan tumbuh bermekaran bunga Daisy. Bunga kecil nan indah ini seperti bunga matahari tapi sangat kecil. Ada yang berwarna putih ada juga yang berwarna magenta atau pink dengan warna orange ditengahnya.

Bunga Daisy
Bunga Daisy

Dengan kembalinya Aku kelak di Taman Surga
Seluruh cintaku hanya untuk satu Bunga.
Demi Tuhan, Dewanya segala Dewa
Lebih baik Surga tak ada
Jika Bunga Daisy Tak pernah dicipta

Sampailah kami di spot ter-hits bagi para pendaki Gunung Prau, dimana spot ini memiliki latar Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Saya selalu bersyukur, dua kali saya mendaki Gunung Prau selalu dianugrahi dengan sedikitnya pendaki, tidak ramai dan selalu leluasa mengambil gambar tanpa perlu berebut atau menghindari kerumunan dari pendaki-pendaki lainnya.

Camping Ground Gunung Prau
view Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing

Kami memang terlambat datang dikala sunrise, tapi cuaca yang cukup cerah membuat kami tetap bisa mengeksplorasi atau lebih tepatnya mencoba bermacam gaya foto berlatarkan keindahan Gunung Prau. Saya lebih tertarik memandangi semua yang ada disana atau lebih memilih mengambil gambar.

Pendakian Gunung Prau
(kiri-kanan). Satria, Astri, Wulan, Dede, Riana, Saya, Maman, Kori.  Taken by: tripod
Pemandangan Gunung Prau
Syahdu…

Matahari sudah semakin terik, saya melihat para wanita pun sudah kehabisan gaya untuk berfoto. Akhirnya kami memutuskan untuk beranjak kembali ke tenda, makan siang dan bergegas turun. Cuaca memang selalu tak terduga, setelah makan siang kami melakukan packing untuk turun. Rintik hujan mulai membasahi kami ketika packing. Jadilah sore itu kami turun gunung ditemani hujan, jalan yang becek dan setumpuk kenangan indah.

Di perjalanan ke Gunung Prau, ada mata-mata yang sedang dibuai asmara. Waktu yang berlalu lambat. Senyum-senyum kepuasan karena keinginan tercapai. Dan… Lukisan Sang Pencipta yang memanjakan mata.

Cerita Gunung Prau

Dieng Plateu, Keindahan dalam kesederhanaan yang membuat semua orang terpana
Kecerian warga dan ramah tamah membuat semua ingin kembali kesana
Bukit Sikunir, Anak Gimbal, Purwaceng, Candi Arjuna, Kawah Sikidang dan Telaga Warna
Dieng Plateu, adalah sebuah negeri surga diatas awan tempat tinggal para dewa — “A journey is best measured in friends, rather than miles” – Tim Cahill

Selanjutnya saya akan bercerita tentang Petak Sembilan, Telaga Warna, Batu Pandang, Dieng Teather dan pemandian air panas. See you 🙂

Terima kasih sudah membaca artikel "Desa Dieng dan Sembungan, Puncak-puncak Yang Didaki". Jika artikel ini bermanfaat jangan lupa di share ya :). Baca juga artikel terkait "Desa Dieng dan Sembungan, Puncak-puncak Yang Didaki".

Maaf ya, Menghindari modus spam dan sejenisnya, komen saya moderasi. Terimakasih ^_^

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*