Gunung Ceremai 3078 mdpl : Melewati Malam Tahun Baru di Gunung

Pendakian Gunung Ceremai via Palutungan

Oke, 2016 sudah lewat, gimana endingnya? Happy ending, kah? Atau kalian masih terkepung masa lalu atau rasa rindu? Duh, kasihan…. Sama, broh!

Pendakian Gunung Ceremai via Palutungan
Minam Plat Siapa nih?

Tahun 2016 saya akhiri dengan mendaki Gunung Ceremai, Gunung tertinggi di Jawa Barat yang tingginya 3078 Mdpl (Meter di atas Permukaan Laut). Ini malam tahun baru pertama saya yang saya lewatkan di gunung, biasanya sih cuma di kontrakan, mojok, sambil ngorek-ngorek lantai terus berseru lirih, kenapa… kenapaa….. (drama banget, ini cuma bercanda).

Ivoel, Jalil, Pandu, Bernard (Bear), Riski, Erwin, dan Teguh, mereka adalah teman-teman pendakian saya kali ini. Saya baru pertama ketemu dan kenal dengan mereka (kecuali Ivoel dan Jalil). Biasalah, walaupun pertama ketemu dan langsung mendaki, kami selalu ada aja basa-basi yang dilakukan untuk bisa saling kenal lebih dekat. Ceritanya lagi pedekate.

Oiya, kami mendaki Gunung Ceremai via Palutungan, survei membuktikan, kabarnya jalur ini termasuk yang midle-hard. Enggak terlalu susah dan enggak terlalu nyantai. Dan ternyata memang bener sih, di awal pendakian kita akan dimanjakan dengan jalan yang melambai-lambai, eh salah, landai-landai maksudnya. Sesampainya kita di pos Tanjakan Asoy, siap-siap aja ketangguhan dengkul diuji, bagi laki-laki yang sudah ‘kopong’ hati-hati. Hahaha

Pendakian Gunung Ceremai via Palutungan

***
Sabtu, 31 Desember 2016

Jam 6 pagi, kami sampai di pos pendakian Gunung Ceremai via Palutungan setelah 3 jam perjalanan dari pintu tol Cikopo.

Enggak pakai lama, setelah dandan, makan dan ngelirik embak-embak pendaki cakep yang rasanya pengen langsung dibawa pulang, kami mulai pendakian sekitar jam 8. Enggak lama, kan? Yang lama itu kita belum pernah ketemu lagi setelah hari itu…. Ya, hari itu…

Eh, ini siapa yang baper? Lupakan!

Perjalanan dimulai dengan lancar, perkampungan dan perkebunan kami lewati tanpa istirahat, wuih setrong. Tapi, semua itu berubah sejak negara api menyerang kami sampai di area camping ground, atau warung pertama di jalur pendakian Gunung Ceremai via Palutungan. Pos 1? Masih jauh cyiin. Perjalanan waktu itu baru sekitar 1 jam.

Teguh tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi, karena fisik yang enggak kuat, tidak sarapan, dan kurangnya perhatian kekasih. Dia memutuskan untuk turun lagi dan enggak ikut pendakian, ini pendakian pertama dia. Oke, kalau enggak kuat ya enggak usah dipaksa, itu bagus!

Pendakian Gunung Ceremai via Palutungan
Teguh masih berusaha teguh mendaki.

“aw… Ih becyekk!!”
“ini gimana lewatnya, euh!”

Plis
deh, panggilan alam nih, jiwa ke-lakik-an kami terpanggil ketika mulai melewati beberapa jalanan yang becyekbecyek gak ada ojek.

Jam 12.30, setelah nanjak tipis-tipis dan manja melewati Pos 1 (Cigowong) dan Pos 2 (Kuta) kami istirahat di Pos 3, Paguyuban Badak, eh… Paguyungan Badak. Isoma. Disini kami mengambil keputusan untuk beberapa orang mempercepat jalan untuk ambil posisi camp di Pos 5 (Pesanggarahan).

Alhasil, saya, Bernard dan Riski yang ada di barisan paling belakang. Woles aja, kami sweeper, biar kalian enggak tertinggal. Padahal mah, ya, capek! xD

Jam 16.30, kami (saya, Bernard dan Riski) masih ada di antara Pos 4 (Arban) dan Pos 5. Karena kami ini (ehem) sweeper, harap maklum lah jalannya lama. Memastikan agar rombongan lain enggak tertinggal. Keren kan?

“Ri, lu duluan deh, nanti kalau udah ketemu bilang suruh jemput” seru Bernard dengan muka cengo.
“Oh, oke!”

Karena melihat kondisi Bernard yang udah kaya orang nahan (maaf) boker dan Riski yang udah kaya pendekar tidur, iya jalan dikit, istirahat tidur. Akhirnya saya mulai pakai jetpack untuk nyusul rombongan yang lain.

Pos Pesanggrahan 1, lirik kanan, lirik kiri. Buka tenda orang, eh… Ada bidadari ganti baju. Haha, bercanda. Di Pos Pesanggrahan 1, saya clingakclinguk nyari rombongan lainnya (Ivoel, Jalil, Pandu dan Erwin). Saya nanya ke Power Ranger yang ada disana kalau apakah mereka melihat cowok-cowok macho~ dengan ciri-ciri yang saya sebutkan. Katanya sudah naik ke Pos Pesanggrahan 2.

16.50, saya bertemu dengan rombongan lainnya di Pos Pesanggrahan 2. Ternyata mereka lagi buka celana, eh, tenda. Setelah ngasih kabar tentang Riski dan Bernard. Jalil dan Ivoel (kombinasi 2 cowo macho~) menyusul mereka.

Malam hari, lupa jam berapa. Saat semuanya kelelahan dan cuaca diluar hujan deras, untunglah kami punya koki handal, Pandu. Dia yang mempersiapkan makan malam buat kami. Thanks bro! You are the real mvp. Terharu…

Duar… Duar… Duar… Happy New Year!!!
Jam 00.00 tepat 1 Janurari 2017. Emang ya, namanya juga pendaki, banyak. Tipikal beda-beda, di tengah hutan di lereng gunung yang sepi, tengah malam, masih ada aja yang main kembang api. Padahal hujan dari sore masih belum reda. Lagian ya, kalau main kembang api gitu bahaya, nanti kalau hutannya kebakaran, siapa yang rugi? Siapa yang mau tanggung jawab? Kasihan kan anak orang hamil gak ada yang mau tanggungjawab, loh?!

“Ri… Ndu… Voel… Ayo bangun, muncak gak?” seru Jalil yang juga ikutan bangun. Memang sih, kami berencana muncak jam 2 pagi, alarm sudah di sett jam 00.15. Tapi, begitu alarm bunyi langsung saya matikan. Plis deh, diluar hujan, enakan tidur kali di dalam tenda. Mimpi indah. Saya yang denger Jalil manggil-manggil gitu diam aja, enggak mau menanggapi. ‘Lu gih muncak sendiri, gue mah ogah, enak tidur, siapa tau ketemu Dijay Yellow… (Mimpi Buruk!)’ jawab saya dalam hati.

Pendakian Gunung Ceremai via Palutungan

Minggu, 01 Januari 2017

Akhirnya kami muncak sekitar jam 7 pagi. Perjalanan relatif aman terkendali. Berbekal ubi rebus dan soundtrack dari Tulus –Pamit, kami menuju puncak. Btw, lagu berjudul Pamit ini diputar sejak kami awal mendaki sampai menuji puncak. Suka? Ngefans? ENGGAK! Ini karena HP Ivoel cuma ada 1 lagu, yaitu : Pamit. Tolong dong, 2017 koleksi lagu cuma 1, situ orang jaman kapan?

Di persimpangan jalur pendakian Gunung Ceremai via Apuy dan Palutungan. Saya dan teman-teman pendaki lainnya yang berjalan di waktu itu, pasti melihat sosok wanita yang duduk dengan tatapan kosong di pinggir jalur. Ya, dia ibu Arisin yang kabarnya memang sengaja ditinggal di Gunung Ceremai oleh kerabatnya. Sedih. Kabar dan beritanya bisa dibaca disini. Sayangnya, saya dan teman-teman lainnya tidak memiliki cukup keberanian untuk bertanya. Alhasil, saya hanya melalui tubuh ibu Arisin yang sedang gemetar kedinginan pagi itu. Dalam pikiran saya, dia adalah salah satu anggota rombongan dari tenda yang ada tepat di belakang Ibu Arisin.

Skip….

“Pak… Puncak masih jauh?” tanya saya ke pendaki yang lagi turun.
“Itu dek, naik enggak sampai 5 menit juga, itu udah keliatan” sambil nunjuk ngasih isyarat.

Saya dan Pandu yang ada di paling depan pun tertawa karena enggak sadar kalau puncak udah di depan mata. Tapi masih nanya orang aja. Haha.

Pendakian Gunung Ceremai via Palutungan

Hmmm, jam berapa ya sampai puncak? Enggak tau deh, lupa. Ya, seperti pendaki kebanyakan. Kami melakukan ritual-ritual pendaki ketika di puncak gunung. Ada yang teriak kaya orang baru bebas dari penjara, foto ala-ala, ada yang nulis ala-ala dan macam-macam dah tingkah lakunya.

“Gue beli buff ‘I Love Palestina’ dong, fotoin dong” sahut Jalil waktu saya mau foto dengan bendera Palestina.
“Mana, mana, gue juga mau dong” dengan sigap saya mengambil bungkus plastik yang katanya itu buff dengan tulisan “I Love Palestina”.

wait…. Lah, kok ini warnanya biru, terus ada bulan sabit dan bintangnya, sejak kapan…..’ belum sempat saya selesai ngedumel dalam hati ala-ala sinetron gituh, saya dikejutkan dengan tulisan “I Love Pakistan”.

Saya yang sudah terlanjur excited jadi ngakak. Sejak kapan juga sih, Palestina benderanya ada bintang dan bulan sabit? Sepertinya kita harus banyak-banyak belajar Astronomi lagi ya biar enggak salah beli dan tau bendera-bendera negara lain. Sotoy banget emang nih Jalil, rasa-rasanya saya mau tenggelamkan ke dasar kawah.

Pendakian Gunung Ceremai via Palutungan
Bendera Palestina itu kaya gini, Lil…

Namanya juga libur tahun baru, suasana puncak waktu itu lumayan ramai. Tapi enggak sampai kaya aksi 212 kemarin kok. Serius.

Cuacanya juga cerah-cerah manja gitu deh. Seketika cerah dengan pemandangan awan dan daerah sekitarnya. Seketika juga ditutup kabut tebal. Cerah lagi, berkabut lagi, cerah lagi, berkabut lagi. Gitu aja terus sampai ladang gandum ditaburi coklat, maka jadila coco crunch (bukan iklan).

Sama juga kaya dia, kadang datang dan tiba-tiba pergi. Menyisakan rindu.

Skip ajalah… Baper!

Pendakian Gunung Ceremai via Palutungan
Kamu yakin enggak mau nemenin aku mendaki?
Pendakian Gunung Ceremai via Palutungan
Itu bendera Indonesia ya, jangan lupa!

Jam 12.00, kami semua sudah sampai di area camp (Pos Pesanggrahan 2). Naik ke puncak hampir 3 jam, turunnya 45 menit. Emang gitu sih naik gunung, mah. Sama kaya kenal kamu, kenalnya 1 hari, ngelupainnya seperti mimpi. Dan sialnya di mimpi juga kadang muncul. Kamu, iya kamu… Yang saya sendiri enggak tau siapa…

Setelah semuanya berkumpul. Modus-modusin tenda sebelah yang lagi masak dan akhirnya sukses, dikasih kopi, tempe dan nasi. Perut udah pada kenyang, kami pun turun ke basecamp. Sialnya, ada hal yang selalu mengganggu dari semalam. Hal tak kasat mata tapi bisa dirasakan. Semua itu lagi-lagi berasal dari Jalil. Kentut. Mending ya, kalau kentut itu diem-diem, kentut udah kaya konser Metallica, terus bau lagi. Plis deh! Selama perjalanan turun nih orang (Jalil) masih aja ngeluarin kentut yang nge-bass yang entah kenapa aromanya kaya asap belerang. Oi, jangan-jangan dia pas di puncak nyemilin belerang kali ya?

“Mendaki gunung adalah perjalanan membunuh waktu, melupakan rindu, membasuh pilu dan semoga dapat memberi warna baru dalam hidupmu.”

Dien (The End).

Terima kasih sudah membaca artikel "Gunung Ceremai 3078 mdpl : Melewati Malam Tahun Baru di Gunung". Jika artikel ini bermanfaat jangan lupa di share ya :). Baca juga artikel terkait "Gunung Ceremai 3078 mdpl : Melewati Malam Tahun Baru di Gunung".

Maaf ya, Menghindari modus spam dan sejenisnya, komen saya moderasi. Terimakasih ^_^

8 Comments

  1. Kok kentut gw dimasukin??? Hahahaha
    Pangguyangan not Paguyangan.
    Pangguyangan=tempat berendam/lumpur.
    Pakistan Ijo bukan biru..:evil::evil::evil:

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*