Gunung Sanggabuana : Gunung di Karawang Dengan Segudang Misteri

Gunung Sanggabuana di Karawang
Suasana di Puncak Gunung Sanggabuana

Sudah, percaya saja kalau foto di atas adalah foto di puncak gunung (katanya). Lagi iseng buka file-file foto di komputer, ngelihat folder dengan judul Gunung Sanggabuana, jadi kepingin berbagi cerita ketika akhir tahun 2016 kemarin saya tutup dengan mendaki gunung ini. Saya jadi ingat bagaimana cerita saya bisa mendaki gunung yang katanya satu-satunya yang ada di Karawang. Karawang yang saya kenal penuh sesak dengan pabrik dan macet diwaktu jam-jam sibuk, ternyata punya gunung juga. Menarik.

Berawal dari undangan teman untuk mengikuti aksi bela bumi Karawang, yang diadakan oleh anak-anak Mapala dari Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA). Acara yang dihadiri oleh banyak komunitas-komunitas yang ada di Karawang ini menolak secara tegas penambangan batu Karst yang sudah terjadi di Karawang. Karawang, khususnya Karawang Selatan, memiliki kawasan bentang alam karst. Batu karst yang menjadi salah satu bahan baku dalam industri semen ini menjadi incaran para pengusaha pabrik semen, berlomba-lomba menginvestasikan dan mengesploitasi kawasan karst tanpa memperdulikan dampak yang akan ditimbulkan terhadap lingkungan. Kawasan karst tentu memiliki fungsi ekologi yang sangat penting, salah satunya berperan penting dalam menjaga pasokan air bawah tanah.

Sebenarnya acara yang dilaksanakan pada 24-25 Desember 2016 itu adalah awal dari pergerakan dalam penolakan pertambangan kawasan karst di Karawang, dipelopori oleh Mapala UNSIKA yang diikuti oleh lintas komunitas yang kemudian dibuat suatu wadah sendiri dalam memulai pergerakan. Puncak acara ditandai dengan pembuatan api unggun yang cukup besar, bisalah kalau buat sate sapi yang masih utuh.

Gunung Sanggabuana
Lagi dapat kesempatan orasi

Gunung Sanggabuana di Karawang

Pagi hari setelah acara selesai, berhubung itu masih hari minggu, kami dan teman-teman lainnya merencanakan untuk melakukan trip. “Gue mau ke Gunung Sanggabuana,” sahut Ihsan ketika saya lagi nanya-nanya soal gunung yang ada di Karawang. “Yaudah ikut, tapi gila banget gue gak siap apa-apa, tau gini gue make sepatu berangkatnya,” saya menjawab ajakannya dengan melihat perlengkapan yang jauh dari kata siap untuk pergi ke gunung. Sendal dan matras, itu aja yang dibawa.

Akhirnya saya, Angga dan Ihsan berpisah dengan teman-teman lainnya yang memiliki tujuan masing-masing. Ada yang ke Bukit Sempur, Curug Cigentis dan ada juga yang pulang. Sebenarnya, untuk menuju area pendakian Gunung Sanggabuana ini cukup mudah, jalurnya sama seperti ke Curug Cigentis, karena Curug Cigentis juga berada dialiran sungai yang ada di kaki Gunung Sanggabuana. Cuma bedanya, ketika sudah sampai di pintu masuk Curug Cigentis, kita harus maju sedikit mengikuti jalan yang mulai menanjak. Tenang, motor bebek tahun 90-an milik Ihsan saja kuat kok.

Buah nanas yang dipajang sepanjang perjalanan menuju lokasi seperti memanggil-manggil untuk disantap, godaan ini membuat saya membeli 3 butir nanas. “Kita makan nanas di puncak nanti, biar seger…” ucap saya sambil memilih nanas. Dengan menenteng 3 buah nanas, kami memulai pendakian. Menurut info yang didapat, gunung ini enggak tinggi, cuma 1000-an mdpl. Tapi, kami sempat terkecoh dengan beberapa warung yang ada dijalur pendakian. “Ini pos 1 ya, nah itu pos 2” ucap Angga sambil mengatur napas dan melihat sebuah bangunan di kejauhan. Nyatanya, yang dianggap Pos 2 itu adalah pintu masuk kawasan pendakian Gunung Sanggabuana. “Jadi yang tadi itu cuma warung-warung biasa? Padahal udah capek.” kami pun tertawa disela-sela napas.

Jalur pendakian gunung sanggabuana
Demi makan nanas di puncak gunung, kami rela berkorban. Apalagi demi cintamu? eeaa

Jalur Pendakian Gunung Sanggabuana yang Penuh Misteri

Setelah mengurus registrasi sebesar 10 ribu, kami melewati beberapa petak sawah warga yang sepertinya belum digarap kembali setelah dipanen. Tak jauh dari situ, ada plang penunjuk arah. Bukan arah puncak yang kami dapat, tapi nama-nama makam atau petilasan yang ada disepanjang jalur. Glek! saya menelan ludah, ini gunung banyak banget makamnya.

Beberapa kali kami berpapasan dengan rombongan lainnya, enggak seperti rombongan pendaki seperti biasanya. Ini lebih didominasi oleh bapak-bapak dan ibu-ibu dengan perlengkapan alakadarnya, seperti orang lagi enggak naik gunung. Awalnya saya heran, tapi seiring seperjalanan, saya tau tujuan mereka kesini untuk apa, berjiarah ke makam-makam yang diyakini makam orang yang berpengaruh di masa lalu. Entah itu makam sungguhan, entah itu hanya petilasan. Tujuannya buat apa? Ah, saya enggak mau kepo urusan itu, setiap orang memiliki tujuannya masing-masing. Yang jelas kami hanya ingin menikmati alam.

Setelah melewati persawahan warga dengan jalur yang tidak begitu sulit dan sudah tersusun oleh batu-batu. Terdapat rumah-rumah warga diujung persawahan, akhirnya kami singgah sejenak disana. Suasana disana cukup tenang walau ramai oleh pengunjung untuk berjiarah, dibawah pohon besar yang menutupi langit dengan akar-akar yang menjulang ditambah udara segar khas pegunungan. Biasanya saya paling suka suasana seperti itu, tapi entah kenapa saya merasa tidak nyaman dengan hal-hal itu, seperti membentur dengan prinsip, melihat orang beraktifitas seperti itu. Rumah-rumah yang ada disana sebenarnya bukan hanya sekedar rumah, beberapa diantaranya terdapat makam, dan terdapat juga makam yang berada diluar. Setelah merasa cukup, kami bergegas melanjutkan pendakian.

Ternyata tidak hanya padi yang ditanam disini, kebun kopi yang cukup lebat juga dapat ditemukan dijalur pendakian Gunung Sanggabuana. Kopi-kopi ini yang kemudian diberi nama Kopi Sanggabuana, saya pernah menikmatinya disuatu kedai di Karawang. Setelah melewati area kebun kopi, jalur masih standar, hutan-hutan masih jarang dan kami melewati sebuah curug. Saya heran beberapa orang yang kami temui ketika sampai di curug ini, mereka mandi sebelum melanjutkan perjalanan. Keheranan saya kemudian terjawab lagi, ternyata orang-orang yang berjiarah disana biasa menyebut ini Pancuran Kejayaan, dengan sebuah keyakinan mereka mandi disana untuk sebuah tujuan. Wallahualam.

Jalur pendakian gunung sanggabuanaSetelah melewati curug tersebut, tantangan sesungguhnya menunggu kami. Ini yang disebut tanjakan 2 jam oleh teman kami sebelum kami berangkat. Tanjakan terjal yang memaksa kaki untuk melangkah tinggi hingga hampir menyentuh dada, atau tangan yang berpegang erat di akar untuk membagi beban agar kaki tidak terlalu lelah. Hal yang saya takutkan sedari awal pendakian pun terjadi, sendak BATA yang saya pakai putus, putus tak bisa nyambung lagi, seperti hubungan kita. Apasih?!

Cih, gunung pendek begini pakai punya tanjakan semacam Gunung Cikuray. Setelah melewati tanjakan 2 jam yang bisa kami lewati 1 jam setengah, kami beristirahat disebuah warung yang ada. Disepanjang jalur pendakian memang terdapat beberapa warung. Berhubung persediaan air kami habis, saya mencari sumber air terdekat, bertanya kepada bapak penjaga warung. Kebetulan lokasinya dekat, tapi harus turun sedikit. Mengikuti petunjuk yang diberi oleh bapak penjaga warung, kami akhirnya menemukan sumber air. Dan apa yang saya lihat lagi-lagi diluar perkiraan saya, sumber air tersebut seperti curug, dan ketika kami sampai disana sudah ada satu rombongan yang terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu dan beberapa anak kecil, enggak berbeda dari curug sebelumnya, di curug ini juga mereka mandi.

“Dek enggak mandi dulu?” tanya seorang bapak. “Enggak pak, emang kenapa?” tanya saya heran karena melihat disetiap curug yang dilalui banyak orang antri untuk mandi. “Wah, sayang banget enggak mandi. Seharusnya adek tadi sebelum naik kesini mandi dulu di curug yang di bawah tadi, itu untuk ‘pengasihan’. Terus sebelum kepuncak mandi dulu disini, untuk rejeki.” jelas bapak itu. Saya hanya tersenyum sambil mengernyitkan dahi. Setelah air di botol-botol kami terisi, kami berpamitan dengan rombongan yang ada disana. “Kalian enggak ada yang mau mandi? Siapa tau habis dari sini kalian pada laris jadi cowo.” seru saya ke Ihsan dan Angga yang kemudian disambut dengan tawa.

Pemandangan di Gunung Sanggabuana
Kalau enggak dapat pemandangan bagus, bagusnya kamu mandangin aku aja. 😛

Pemandangan yang Ada di Gunung Sanggabuana

“Itu bukit tempat kita nge-camp tadi?” tanya saya ke Ihsan dan Angga ketika melihat sebuah bukit kapur dari kejauhan yang sudah hilang setengah karena penambangan liar. Prihatin memang melihat pemandangan bukit yang setengah hijau setengah lagi hilang entah kemana.

Sekitar 30 menit perjalanan setelah curug terakhir, akhirnya kami sampai di puncak Gunung Sanggabuana. “Edan, masih ada aja makam!” seru saya melihat suasana yang ada di puncak. Seperti gambar pertama di atas, di puncak Sanggabuana terdapat sebuah perkampungan kecil dengan beberapa rumah, warung dan musholah. Ada juga beberapa gubuk dari papan-papan kayu untuk beristirahat para pengunjung, dan enggak ketinggalan, ciri khas dari gunung ini, makam.

“Pak, itu musholah kan?” tanya saya ke seorang bapak yang ada disana sembari menunjuk sebuah bangunan rumah kecil dengan ornamen bebentuh kubah di atasnya. “Bukan dek, itu makam, lagian emang aneh yang bentuk atasnya begitu. Kalo musholah disana” jelas bapak itu sambil menunjuk arah musholah yang sebenarnya.

Saat saya dan Ihsan sedang asik melihat-lihat suasana di puncak Sanggabuana, terdengar suara yang cukup keras. Suara dengkuran. Ternyata Angga sudah tidur pulas di atas kursi dari selebar papan kayu di bawah pohon cemara. Kami memang kurang tidur sedari mengikuti aksi semalam, kondisi kurang tidur diajak beraktifitas yang tergolong berat seperti ini memang cukup cepat membuat kami lelah. Setelah sadar, kami juga baru menyadari, ternyata lokasi Angga tidur bersebelahan dengan sebuah makam kecil yang hanya ditandai dengan sebongkah kayu. Makam dimana-mana.

Puncak Gunung Sanggabuana
Ini di puncak loh.

Pemandangan yang bisa dinikmati dari Puncak Sanggabuana ini tidak terlalu banyak. Kita hanya akan menikmati pemandangan hutan-hutan yang ada disekitar puncak. Setelah puas melihat-lihat, kami beristirahat disebuah gubuk dari papan kayu sembari menikmati nanas yang kami bawa. Segar sekali rasanya, tapi lama-kelamaan udara dingin mulai menggigit, melihat beberapa lokasi bekas menyalakan api unggun, saya pun berinisiatif untuk membuat api unggun untuk menghangatkan badan. Tapi gagal. Karena tidak banyak pemandangan yang dapat kami eksplorasi, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dengan tidur. Toh, kalau lapar bisa pesan nasi dan kopi diwarung sebelah.

Gunung Sanggabuana di Karawang ini bisa menjadi alternatif gunung jika ingin mendaki hanya dalam 1 hari saja. Dibalik segala misteri dan suasana mistis di dalamnya, tentu kita memiliki tujuan masing-masing dalam mendaki gunung. Semua kembali kepribadi masing-masing, mungkin memang setiap makam yang ada di Gunung Sanggabuana memiliki nilai sejarahnya masing-masing yang diyakini bisa ‘memberi’ sesuatu pertolongan. Tapi, bagi saya hal-hal tersebut sudah berbenturan dengan apa yang saya yakini. Mitos, misteri atau apalah itu namanya saya juga suka mendengarkan setiap cerita-cerita dibaliknya, setiap daerah memiliki ceritanya masing-masing, biarkan jadi keunikan tersendiri untuk menjadi nilai tambah dan daya jual bagi daerah atau objek wisata tersebut.

Misteri abadi dunia adalah keterpahamannya. – Albert Einstein

Terima kasih sudah membaca artikel "Gunung Sanggabuana : Gunung di Karawang Dengan Segudang Misteri". Jika artikel ini bermanfaat jangan lupa di share ya :). Baca juga artikel terkait "Gunung Sanggabuana : Gunung di Karawang Dengan Segudang Misteri".

Maaf ya, Menghindari modus spam dan sejenisnya, komen saya moderasi. Terimakasih ^_^

3 Comments

  1. Di jalur Linggarjati Ciremai ada pos yang namanya Sanggabuana. Sepertinya penamaan ini ada asal usulnya deh. Ayo gali lagi dari sisi sejarah. Siapa.itu Sangga Buana? Sepertinya seseorang yang hidup di jaman kerajaan Siliwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*