Makna Sebuah Pendakian

Gununug Papandayan dari Gunung Guntur
Terlihat Papandayan

Katanya gunung tempat berbagi?

Katanya gunung tempat mengerti?

Katanya gunung tempat kita saling melengkapi?

Katanya gunung tempat untuk merenung, lebih mensyukuri nikmat illahi?

Gununug Papandayan dari Gunung Guntur
Terlihat Papandayan

Banyak yang beranggapan, sekarang ini banyak pendaki yang hanya musiman, hanya ingin dibilang kekinian. Saya pun tidak memungkiri itu. Bahkan, saat mendaki gunung saya sering bertemu teman-teman pendaki yang berangkat tanpa persiapan matang. Gunung itu bukan tempat rekreasi aman, ketika kalian mendaki, berarti kalian sudah siap menggadaikan nyawa kalian demi menikmati keindahan alam. Lantas, apa makna sebuah pendakian?

Sobat, saya juga seorang pendaki, bukan berarti saya ingin berusaha sok pintar atau menggurui. Bukankah kita bertugas saling mengingatkan? Dulu, saat saya belum pernah melakukan pendakian, saya sudah memulai mencari info, tips dan persiapan tentang pendakian gunung, bahkan sejak saya SMK.

Hingga akhirnya, saya baru diberi kesempatan mendaki untuk pertama kalinya pada tahun ini, di akhir bulan Mei lebih tepatnya. Apa yang saya dapat? Apa yang saya rasakan? Apakah ini sesuai dengan yang saya harapkan?

Saat mendaki pertama kali, saya sudah mulai mendekte apa sebenarnya makna pendakian gunung. Walaupun kegiatan ini sangat beresiko dan melelahkan, kenapa banyak orang yang tidak henti-hentinya mencari ketinggian demi melihat gumpalan awan.

Disana, disaat saya pertama kali mendaki. Saya mendapatkan sebuah jawaban besar, saya pikir hal ini relatif bagi setiap orang. Tapi, saya akan ceritakan melalui sudut pandang saya.

  • Saat Mendaki, Uang Tak Bermakna Selain Kerja Sama

Jangan harap kalian akan merasakan kenikmatan saat mendaki, Sobat. Ketika kalian lelah, tidak akan ada tukang pijat yang siap kalian bayar untuk menghilangkan kelalahan itu. Ketika kalian lapar, tidak ada makanan siap saji. Ketika kalian ingin tidur, tidak ada kasur empuk dan lindungan tembok rumah. Kehujanan, kepanasan, dingin semua akan kalian rasakan. Dan saat itu, kalian tidak akan berpikir berapa banyak uang yang kalian bawa. Kalian akan berpikir seperti apa kerja sama yang akan dilakukan.

  • Melunturkan Rasa Sombong

Bagaimana kalian akan sombong saat mendaki? Kalian akan merasa sangat lemah, sangat tak berdaya. Ketika kalian pernah berpikir bisa melakukan semuanya sendiri, disini, diatas gunung, kalian tidak akan pernah berpikir seperti itu. Setiap satu orang membutuhkan orang lainnya.

  • Barometer Rasa Ego

Jangan membela diri untuk poin yang satu ini. Aku pun merasakannya, saat mendaki muncul rasa ingin menggapai puncak duluan, menunggu rombongan lainnya sambil berleha-leha diatas sana. Rasa ego terkadang muncul saat mendaki gunung. Semakin besar ego mu, semakin besar kemungkinan kamu untuk tidak memperdulikan teman sependakian bersamamu. Bukankah yang lebih indah itu berjalan beriring, saling menjaga, saling melengkapi.

  • Membentuk Mental

Jika kita terbiasa manja, semua serba ada. Ingin ini tinggal bilang, ingin itu tinggal tunjuk. Mendakilah, disana kalian akan merasakan indahnya sebuah perjuangan demi mendapatkan sesuatu yang tidak bisa kalian miliki. Demi sesuatu yang tidak bisa kalian genggam dan demi sesuatu yang tidak bisa orang lain rasakan, kalian sendiri yang rasakan. Tidak ada hal yang lebih indah selain sebuah cerita dari perjuangan menggapai sesuatu. Mental kalian tentang hal ini akan bisa kalian bentuk disini.

  • Lebih Mensyukuri Nikmat

“Maka, nikmat tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” QS: Ar-Rahman. Bahkan setetes air yang membahasi tenggorokan akan kalian syukuri, segumpal nasi matang yang tidak sematang nasi dari rice-cooker akan tetap kalian syukuri. Tidak ada yang tidak akan kita syukuri di gunung. Indahnya alam, kesederhanaan makanan, perjuangan, dinginnya malam, senyum kelelahan, ah…. Sangat banyak yang aku rasakan dan syukuri saat mendaki.

Sobat, dengarkanlah bagi kalian yang ingin mendaki atau yang sudah sering mendaki. Gunung adalah salah satu tempat kita belajar kepada semesta, manusia bukanlah apa-apa tanpa alam dan seisinya. Bayangkan kalau manusia hidup tanpa gunung, laut, pohon dan hewan, sangat hampa. Bahkan mungkin saat itu sudah kiamat.

Ramahlah kepada alam saat mendaki, bawa turun kembali sampahnya. Maka, sebenarnya makna sebuah pendakian bukanlah demi foto-foto yang akan kalian pamerkan di sosial media. Ada ‘sesuatu’ yang sangat besar yang akan kita dapatkan, sesuatu itu hanya akan dirasakan bagi orang-orang yang tulus ketika mendaki, bukan orang-orang yang ingin mendapatkan eksistensi diri. @arstory.net

Terima kasih sudah membaca artikel "Makna Sebuah Pendakian". Jika artikel ini bermanfaat jangan lupa di share ya :). Baca juga artikel terkait "Makna Sebuah Pendakian".

Maaf ya, Menghindari modus spam dan sejenisnya, komen saya moderasi. Terimakasih ^_^

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*