Mengenali dan Mengatasi Hipotermia di Gunung

Hipotermia

 

Hipotermia

Saat mendaki Gunung Gede pada akhir bulan mei kemarin, ketika rombongan kami sudah sampai dirumah. Kami mendapat kabar bahwa rombongan dari IKJ (Institute Kesenian Jakarta) yang camp-nya berada disebelah kami ada yang meninggal, diduga karena Hipotermia.

Sama seperti ketika mendaki Gunung Guntur pada akhir bulan Juli kemarin. Darril, salah seorang dari rombongan yang camp-nya bersebelahan dengan rombongan kami meninggal dunia, diduga karena Hipotermia. Walaupun pada pagi hari sebelum rombongan kami turun kami sempat melakukan pertolongan pertama hingga petugas datang. Kabar duka ini kami terima ketika rombongan kami sudah sampai di Karawang.

Memang, hipotermia adalah ancaman yang besar untuk para pendaki di gunung. Karena tidak sedikit kasus kematian pendaki gunung yang disebabkan oleh hipotermia ini. Persiapan pendaki yang kurang matang memperbesar kemungkinan hal-hal non-teknis seperti hipotermia ini terjadi.

Terus, sebenarnya apasih Hipotermia itu?

Hipotermia adalah suatu kondisi dimana ketidak mampuan tubuh untuk mempertahankan panas tubuh atau beradaptasi dengan cuaca dingin. DImana suhu di dalam tubuh manusia normal adalah 36,5 – 37,5 derajat celcius. Ketika suhu berada dibawah 35 derajat celcius, sudah dipastikan orang itu terkena hipotermia. (sumber: id.wikipedia.com)

Gejala Hipotermia

Sebenarya hipotermia bukanlah hal yang tidak bisa diatasi dan dicegah. Mengenali gejala-gejala hipotermia pun bisa sangat mudah.

Hipotermia Ringan

– Terjadi penyempitan pembuluh darah di permukaan

– Merinding hebat, pelan-pelan semakin lama semakin sering

Hipotermia Sedang

– Terjadi penyempitan pembuluh darah di permukaan

– Merinding hebat, pelan-pelan semakin sering.

– Mulai sulit melakukan gerakan tubuh yang rumit, seperti mencengkeram, atau memanjat, meskipun si pendaki masih bisa berjalan dan berbicara normal.

Hipotermia Berat

– Merinding makin hebat dan datang bergelombang, dan tiba-tiba berhenti. Makin lama fase berhenti merinding semakin panjang, hingga akhirnya benar-benar berhenti. Hal ini disebabkan glikogen yang dibakar di dalam otot sudah tidak mencukupi untuk melawan suhu tubuh yang terus menurun. Akibatnya, tubuh berhenti merinding untuk menjaga glukosa.

– Korban jatuh dan tak bisa berjalan/melangkah, kemudian meringkuk untuk menjaga panas tubuhnya.

– Otot mulai kaku. Ini terjadi akibat aliran darah ke permukaan berkurang dan disebabkan oleh pembentukan asam laktat dan karbondioksida di dalam otot.

– Kulit terlihat mulai pucat.

– Bola mata tampak membesar.

– Denyut nadi terasa menurun.

– Pada suhu 30 derajad Celcius, kondisi tubuh masuk ke dalam fase penghentian metabolisme. Korban tampak seperti mati, padahal sebetulnya masih hidup.

– Pada suhu internal 32 derajad Celcius, tubuh berusaha memasuki fase hibernasi, menghentikan seluruh aliran darah permukaan dan mengurangi aktivitas jantung.
(sumber : Health.kompas.com)

Cara Mengatasi Hipotermia

– Pastikan pakaian penderita sudah diganti dengan pakaian yang kering. Saat proses pendakian pasti kita akan berkeringat dan membuat pakaian yang dipakai lembab.

– Berikan minuman-minuman hangat yang akan membantu menghangatkan suhu tubuh.

– Usahakan agar penderita tetap dalam keadaan sadar, jangan sampai tidak sadarkan diri. Salah satunya adalah ajak ngobrol si penderita.

– Masukkan pendertia kedalam sleeping bag. Untuk gejala-gejala yang belum darurat, kita bisa membantu dengan memeluk dari luar ada mengusap-usap bagian punggung penderita. Untuk hal yang sudah semakin darurat, bisa melakukan skin-to-skin, yaitu mentransfer panas tubuh dalam posisi telanjang.

Ketika mendaki Gunung Papandayan, teman satu tenda saya mengalami gejala awal hipotermia. Posisi sudah malam hari dan aktifitas sudah mulai tidak ada. Pertolongan pertama yang bisa saya lakukan adalah dengan membuatkan dia air minum hangat, memasukkan air panas kedalam botol untuk dia puluk dan diarahkan ketitik-titik dingin yang dia rasakan. Pada akhirnya saya menambahkan jaket yang saya pakai untuk dia pakai. Selain faktor suhu udara yang dingin, kondisi tubuh yang tidak fit juga bisa memperbesar kemungkinan hipotermia terjadi.

Cara mencegah agar tidak terkena hipotermia

– Jangan pakai jeans. Naik gunung pakai jeans itu gak ada untungnya, selain membuat (maaf) selangkagan lecet, jeans juga membatasi pergerakan dan ketika basah terkena hujan atau lembab karena keringan, celana jeans tidak mudah kering, selain itu bahannya menyerap dingin.

– Bungkus pakaian ganti dengan plastik lagi ketika packing, untuk menghindari basah ketika dalam proses mendaki terkena hujan. Dan, segera ganti pakaian dengan pakaian kering ketika sudah di camp

– Makan makanan yang mengandung karbohidrat tinggi, untuk mengganti energi yang hilang ketika proses pendakian. Dan selalu sedia stok minuman hangat.

– Selalu sedia rain-coat, untuk jaga-jaga ketika mendaki turun hujan. Jadi gak terlalu basah.

– Katika hendak istirahat atau tidur, usahakan tubuh agar tetap hangat dengan menggunakan sarung tangan, kupluk, buff/syal, jaket, kaus kaki dan masuk kedalam sleeping bag. Yang terpenting, tidur didalam tenda, ya.

Seharusnya kita sadar, pengetahuan akan hal-hal non-teknis seperti ini hukumnya wajib bagi setiap pendaki gunung. Pengetahuan bagaimana mengenali gejala dan mencegahnya itu lebih penting. Mencegah lebih baik dari pada mengobati, kan?

Jangan karena hanya ingin dikatakan ‘kuat’ oleh teman, kita mengabaikan keadaan fisik kita yang sudah mulai terasa lemah. Karena, sekuat apapun persaingan seseorang dengan gunung, maka gunung lah yang akan tetap menjadi pemenangnya. Alam bebas memang menjanjikan panorama yang indah, tapi di alam bebas apa pun bisa terjadi. Tetap nikmati petualanganmu! 🙂 – Arstory.net

Terima kasih sudah membaca artikel "Mengenali dan Mengatasi Hipotermia di Gunung". Jika artikel ini bermanfaat jangan lupa di share ya :). Baca juga artikel terkait "Mengenali dan Mengatasi Hipotermia di Gunung".

Maaf ya, Menghindari modus spam dan sejenisnya, komen saya moderasi. Terimakasih ^_^

2 Comments

  1. Mungkin bisa saya tambahin sedikit soal cara mencegah hipotermia, itung” sedikit bagi” ilmu, hehe..

    Banyak orang pikir, kalo baju cuma bakal basah waktu hujan. Salah, baju juga bisa basah karena keringat dan ini juga bisa menimbulkan hipotermia. Untuk itu, sangat sangat disarankan kita memakai baju yg berbahan non katun, seperti synthetic dan woll, karena bahan” tersebut mempunyai sifat quick dry.

    Dari pengalaman saya sendiri waktu mendaki Semeru, selama 3 hari saya pakai baju yg sama, bahannya synthetic. Tetap basah karena keringet, tetapi dalam waktu kurang dari sejam sudah kembali kering. Hal yg sama mungkin gak bakal terjadi di baju berbahan katun.

    Segitu aja dari saya, maaf bawel, hehe..

    Salam lestari!

    • Yaps, terima kasih atas tambahan masukannya. 🙂
      Betul banget mas Wisnu, keringat juga bisa membuat basah tubuh, eh, tubuh basah. Sama aja kali ya…

      Intinya, persiapan pendakiannya harus siap semua, pakaian ganti yang kering juga harus terjaga tetap kering di dalam tas.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*