Merantau

Merantau

Dua hari saya ijin dari kerja, dimulai dari senin kemarin dan sampai hari ini. Sakit, itu mungkin alasan yang bisa diterima oleh atasan. Jika hanya fisik yang sakit, selagi saya masih bisa berdiri, tidak ada alasan untuk tidak berangkat kerja. Tapi, fisik saya memang lagi kurang fit ditambah kepungan pemikiran yang membuat saya harus berdiam diri, memuaikan semua semangat untuk bekerja dan lagi-lagi pikiran itu datang menghakimi diri. “Apa yang kamu cari, Ari?”

Jika sudah seperti ini, saya akan menjatuhkan diri kembali jauh dimana saya memutuskan untuk pergi. Semua orang punya alasan untuk pergi dan kembali.

***

Sayup-sayup suara imam melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Malam bulan suci Ramadhan saat itu saya lalui seperti malam-malam biasanya, tanpa keistimewaan sama sekali. Perjalanan pulang dari Natar ke Bandar Lampung mengendarai sepeda motor membuat saya melewati beberapa masjid yang berada di tepian jalan yang sedang ramai dengan jamaah yang melaksanakan sholat tarawih. “Apa kamu mau tetap seperti ini?”

Suara lirih yang entah datang dari mana menggetarkan konsentrasi, membuat saya berpikir panjang selama perjalanan 1 jam itu. “Sebenarnya apa yang saya cari?” saya mencoba menggali ke dalam diri. Umur 18 tahun, hanya berselang 4 bulan dari lulus SMK tapi saya masih berputar, mencari jalan mana yang harus saya lalui. Mendengar kabar teman-teman masuk perguruan tinggi, membuat saya sedikit iri dengan mereka. Iri itu tak pernah nampak, sekalinya kalian membaca ini, seharusnya kalian memahami bahwa saya juga ingin diposisi kalian, melanjutkan study tanpa harus memikirkan segala tetek-bengeknya.

“Mak, aku mau merantau.” sebuah kalimat yang membawa saya berada disini, saat ini. Mamak adalah orang yang paling paham siapa saya, sekali saya membuat keputusan, sekuat apapun dia mempertahankan, saya akan melakukannya. Atas dasar kisah-kisah dan janji kehidupan yang indah di masa depan dari kerabat yang berada di seberang pulau, saya memutuskan untuk pergi. Perjalanan ini benar-benar hanya bermodalkan mimpi. Banyak hal yang ingin saya gapai, tunjukkan dan buktikan.

Semuanya sudah berlalu, kini waktu terus bergulir maju. Saya yang pergi tanpa berpamitan langsung dengan Bapak, hanya sempat menitip pesan “Mak, salam ke Bapak, aku merantau.”

***

Alasan-alasan dasar kenapa saya pergi tentu tidak akan saya ungkapkan. Setidaknya, ini bukan soal materi, saya pergi untuk melarikan diri. Menulis sebagai salah satu terapi untuk meringankan beban. Ini yang saya lakukan sekarang.

Terus, “Apa yang kamu cari, Ari?”

Ya, sebuah pertanyaan yang sebenarnya masih belum bisa saya jawab dengan pasti. Pertanyaaan besar. Apakah materi? Saya memang butuh, tapi tidak mengutamakannya, lihat mereka yang hidup dikesederhanaan desa, jauh dari hedonisme kehidupan kota, bahkan mereka jauh lebih bahagia, menurut saya.

Ketika hal-hal dasar alasan dimana saya pergi dulu sudah terpenuhi, kenapa saya tidak kembali? Ah, jika banyak orang tua yang lebih berpengalaman dari saya membaca ini, mungkin mereka akan memberikan masukan. Itu yang saya harapkan, untuk melengkapi puzle-puzle yang mulai berantakan, merangkai kembali tujuan-tujuan dari perantauan ini.

Apakah salah aku ingin maju ?
Apakah salah nanti ku tak ingin malu ?
Aku hanya berusaha berbuat segalanya
Aku mau orang tuaku bangga
Aku ingin dihargai mereka
Aku masih meraih cita-cita
Walau terkadang mau menyerah

Terima kasih sudah membaca artikel "Merantau". Jika artikel ini bermanfaat jangan lupa di share ya :). Baca juga artikel terkait "Merantau".

Maaf ya, Menghindari modus spam dan sejenisnya, komen saya moderasi. Terimakasih ^_^

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*