Gunung Cikuray 2821 Mdpl : Cerita Antara Dengkul dan Dada

Sunrise di Puncak Cikuray

Gelap, basah, becek, dingin dan… Galau.

Gunung Cikuray 2821 MDplIni pertama kali gue mendaki gunung malam hari. Sebagai pelengkap koleksi puncak gunung di Garut, Gunung Cikuray 2821 Mdpl memang paling ajiib dah.

Dari pertama mau ke pos pemancar aja yaa, gue udah kena hujan. Udah hujan, becek, naik ojeek. Belum apa-apa gue udah kedinginan. Pemandangan kebun teh yang kata temen bagus banget buat selfie-selfie cantik jadi enggak keliatan.

Udah ketahuan dong, kalau disini gue ambil jalur pemancar untuk naik ke Gununug Cikuray. Jalur yang paling mainstream. Gimana lagi, disini gue udah macem guide. Susunan acara udah kesusun dengan rapih, eeh, jadi agak berantakan, karena waktu sehabis urus simaksi enggak boleh langsung mendaki. Emang sih, posisi lagi hujan lebat, akhirnya gue neduh di salah satu warung disana.

Pendakian Gunung Cikuray

Rombongan 4 orang (termasuk gue) ditambah lagi nemu 2 orang (cewe-cowo) yang juga nunggu hujan reda, diceritakan mereka ikut bergabung ke rombongan, total 6 orang. Setelah 2 jam lebih duduk diem, sambil ngopi, nyemil-nyemil dikit dan nungguin ujan reda tapi enggak reda-reda. Akhirnya kami mendaki disela-sela rintik hujan.

Masih perlu gue ceritain gimana trek Gunung Cikuray via Pemancar? Enggak kan, yaudah kalau gitu. Selesai.

Ya gitu deh, trek gunung cikuray ini memang bikin bete. Untungnya aja gue nanjak waktu malam hari. Jadi, enggak langsung liat gimana trek-treknya. 1 jam pertama, perjalanan masih lancar jaya, masih bisa bercanda sana-sini, cekikikan seperti makhluk halus yang lagi reuni.

1 jam kedua, perjalanan mulai hening, sehening malam. Disini gue mulai ngatur posisi, dengan komposisi rombongan 3 cowo dan 3 cewe, jadilah posisi 4-4-3, eeh. (lo pikir bola). Jadilah 1 cowo di depan (gue) 1 cowo di tengah (Kakak Ipar) dan 1 cowo paling belakang (Si Yoyo – Nama sesungguhnya). Karena diwaktu ini jalur yang dilewati udah mulai bikin orang merayap-rayap. Alhasil, kami jalan gak berani jauh-jauh jaraknya. Ditambah pencahayaan yang mulai berkurang kan, duh emang ribet kalau mendaki malam hari.

Jadi inget lagu, cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap. Itu keadaan waktu itu, sudah macam cicak lah kami ini, merayap di akar-akar pohon, sesekali gue kepleset, merayap dalam diam, beuh… tsaadeest!

Gunung CIkuray 2821 mdpl

Boro-boro ketawa-ketiwi, gue liat satu-satu orang yang ada di rombongan gue, mukanya sudah pada memelas, ngatur napas, ngos-ngosan. Kondisi yang semakin malam, walau hujan sudah tidak turun lagi tapi pakaian sudah lembab semua, kami harus cepat mencari tempat untuk mendirikan tenda. Enggak heran sih, saat mengurus simaksi, gue sempet nanya berapa orang yang mendaki Gunung CIkuray, ada sekitar 700an orang. Ebuseet, rame bener. Dibawah sih enggak keliatan, Pos 2 penuh dengan tenda, pos 3 penuh juga.

Jam 1.30 Gue masih nanjak looh, dari jam 8 malem. Mau nge-camp eh penuh semua areanya, mau enggak mau, harus terus jalan. Kakak sepupu gue (cewe) padahal udah nangis-nangis minta berhenti, tapi mau gimana lagi. Singkatnya dapatlah area yang cukup buat 2 tenda, tapi agak miring. Posisi antara pos 3 – pos 4 atau pos 4 – pos 5, entahlah, masa bodo.

Tenda udah, udah makan, terus tidur. Tidur juga kagak enak, merosot mulu, udah tanahnya miring otak gue juga ikut miring kali ah, eh, gitu-gitu juga masih pules sih. Entah ada angin apa, kaya orang baru kerasukan roh gunung, kakak sepupu gue yang semalem nangis-nangis minta berhenti, sehabis istirahat dia kaya semangat banget untuk sampai ke puncak cikuray. Gue yang masih belekan dan mulut sepet jadi buru-buru packing untuk lanjut mendaki.

Dengkul dan dada, 2 bagian tubuh yang terpisah jauh dipertemukan dengan mesra diantara akar-akar kayu raksasa. Untuk ukuran orang yang baru mendaki, Gunung Cikuray not recommended banget lah. Nanti kaya kakak sepupu gue lagi, sampe nangis-nangis, emang tega lo liat perempuan nangis? Gue sih enggak, bisa-bisa malah galau gue, “laki-laki tidak bertanggungjawab!!!” huaa….

Akhirnya, kami sampai di pos 6. Oiya, INFO PENTING GUNUNG CIKURAY, SEKARANG SUMBER AIR SUDEKAT! Haha. Sekarang di Pos 6 Gunung Cikuray sudah ada Genset yang narik air dari bawah untuk persediaan para pendaki. Memang, lagi apes-pes-pes-pes… Waktu sampai disana, gensetnya kehabisan bensin dan jadilah harapan makan sayur asem pun pupus. Stok air terbatas.

Mau nge-camp lagi di pos 6, itu tenda-tenda pendaki macam lapak tukang sayur, padat-penuh-sesak sekali aku liatnya (bah, logatnya kok berubah). Akhirnya jadilah kami nge-camp lagi di bawah puncak, yaa dibawahnya pas lah, kalau jalan 5 menit pun sampai di puncak.

Rencana mau ambil momen sunset, tapi enggak bisa. Awan mendung, hujan lagi. Stok air tinggal 2 botol ukuran 1,5 L. Hujan dari sore sampai malem, boro-boro mau ambil momen sunset di Puncak Gunung Cikuray, mau masak aja susah, harus becek-becekan dulu. Hmm, tapi karena hujan ini juga, stok air kami bertambah. Nampung air diatas flysheet terus dimasukin ke botol-botol kosong. Taraaa… Air hujan asli pegunungan, seger juga looh, atau karena memang kehausan. Haha

Hujan reda tapi waktu sudah agak larut, tapi pemandangan Citylight kota Garut sangat luar biasa indah bisa kami nikmati dari posisi kami nge-camp.

Sunrise di Puncak Cikuray

Jam 4 Pagi, gue udah rusuh bangunin rombongan untuk muncak untuk menikmati momen sunrise. Oiya, disini gue sangat teledor saat melakukan persiapan pendakian gunung, jaket kagak kebawa. Untung aja bawa sarung. Dan akhirnya… Pendakian Gunung Cikuray 2821 Mdpl di Garut via Pemancar selesai. Walau cuaca lagi tidak mendukung dan hanya dapet kabut doang, tapi tetep. Alhamdulillah, gue dan rombongan masih selamat, sehat dan waras. Buktinya, tulisan ini terbit.

 

Selfie di puncak gunung CIkuray
Abaikan Jaket Biru :v

Pendaki Galau Di Puncak Gunung Cikuray

Kalau cerita waktu turunnya enggak perlu kali ya, namanya turun gunung gitu, lebih cepet, tapi lebih capek. Tetep sih, di Puncak Gunung Cikuray itu ada Shelter, tapi sayang banyak coretan. Ada sebuah ukiran yang bagus bertuliskan seperti ini :

STOP VANDALISME DI GUNUNG

STOP VANDALISME!!!
Jangan rusak tempat kami bermain!

Sekian, semoga berkenan. 🙂 By: @ARstory

Terima kasih sudah membaca artikel "Gunung Cikuray 2821 Mdpl : Cerita Antara Dengkul dan Dada". Jika artikel ini bermanfaat jangan lupa di share ya :). Baca juga artikel terkait "Gunung Cikuray 2821 Mdpl : Cerita Antara Dengkul dan Dada".

Maaf ya, Menghindari modus spam dan sejenisnya, komen saya moderasi. Terimakasih ^_^

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*