Gunung Guntur 2249 Mdpl Si Miniatur Mahameru

Kebakaran di Gunung GUntur

Pendakian Gunung GUntur 2249 mdpl

Gunung Guntur itu tingginya cuma 2249 Mdpl, pendek? Iya. Tapi, jangan dianggap remeh Gunung Guntur kalau belum pernah nyoba. Serius, gak pake bohong, suer dah, Gunung Guntur pendek tapi nyebelin. Kalau kata teman sesama pendakian waktu itu, ini gunung miniaturnya Mahameru (Puncak Gunung Semeru).

Sebenarnya sih, pendakian Gunung Guntur ini udah lama, tahun 2015 Ba’da lebaran, cie ileeh, make ba’da segala, emangnya abis shalat?. H-2 pendakian, ada kabar kalau ilalang-ilalang yang ada di punggungan Gunung Guntur terbakar. Grup WA yang udah dibuat jauh-jauh hari mendadak ramai dan satu persatu anggotanya mulai berdoa kalau jalur pendakian Gunung Guntur enggak ditutup. Dan… Alhamdulillah, benar-benar enggak ditutup.

Kebakaran di Gunung GUntur
Bekas Kebakaran Gunung Guntur

Di Garut, ada istilah Trio Paguci yang akrab bagi para pendaki. PaGuCi (Papandayan – Guntur – Cikuray). Padahal tinggi Gunung Guntur ini mah pendek, sama Gunung Papandayan aja masih jauh, selisih 400 meteran. Sedangkan Papandayan aja udah ada WC Umum, warung, mungkin bentar lagi ada hotel bitang 7 diatas sana (puyer kali ah). Gunung Guntur ada di posisi ke-2, karena memang Gunung Papandayan cocok untuk pemula sebelum mencoba gunung lainnya.

Sumpah deh, waktu gue mendaki Gunung Guntur gue salah kostum banget. Pake celana sedengkul dan kaos oblong. Posisi waktu itu masih musim kemarau. Alhasil, tangan, muka, kaki, ketek jadi belang, malah di kaki belangnya sampai sekarang belum hilang.

Ah, udahal banyak basa-basi ya, langsung aja gue ceritain gimana trek yang ada di Gunung Guntur si miniatur Mahameru

Nginep di Pom Bensin Tanjung

Persiapan Pendakian Gunung Guntur

Rombongan total ada 11 orang termasuk gue, dan gue baru kenal 2 orang. Dengan segala kecanggungan itu kami semua nginap di pom bensin yang ada di pinggir jalan (iya kali pom bensin di tengah sawah). Namanya pendaki, orang baru kenal bisa jadi dekat dalam sekejap macam pesulap. Di pom bensin itu ada musholah yang biasa untuk para pendaki numpang tidur sebelum mendaki Gunung Guntur.

Selepas subuh, kami semua sudah siap-siap buat naik. Biasanya para pendaki senangnya nebeng truk yang sudah jadi langganan. Karena ngelihat rombongan gue yang sudah gendong-gendong tas cerrier, beberapa supir truk nego agar kami naik truk mereka, karena harga tidak bersahabat, jadilah kami jalan sedikit ke gang yang ada disebelah pom bensin itu. Kaya ibu-ibu nawar sayur lah, harga gak pas pura-pura ninggal pergi, padahal dalam hati berharap dipanggil lagi. Ternyata… tidak! Untung ada supir lainnya yang bisa nego harga lebih bersahabat, jadilah kami naik truk ke kaki Gunung Guntur, hemat tenaga, hemat air dan biar enggak bau keringat pagi-pagi.

Jalur Pendakian #1, Santai.

Trek awal pendakian Gunung Guntur

Yak! Pendakian dimulai dengan trek yang santai melewati tambang-tambang pasir yang ada di Gunung Guntur. Pokoknya santai lah, waktu sampai dibawah Curug Citiis si Chandra nanya ke Kang Oni “Gimana kang Gunung Guntur?”, “Ah, ini biasa…” jawab Kang Oni. Kurang lebih gitu lah obrolan mereka, gue sih cuma diem aja, karena dilihat dari pom bensin tanjung, Gunung Guntur udah kelihatan taringnya.

Curug Citiis di Gunung Guntur

Okee, perjalanan terus berlanjut dan masih tergolong santai beuud lah sampai di pos yang menjadi sumber air terakhir, katanya sumber air sudekat. Disini ada insiden yang buat gue harus lebih berhati-hati dalam melakukan persiapan pendakian gunung. Tali di tas carrier gue putus…! Ini lebih menyakitkan dari putus cinta bray, cius… Untung lagi, ada Kang Rudi yang terkenal sebagai tim medis yang di dalam tas carriernya itu ada macam-macam obat, mungkin ada obat jomblo juga. Sembari istirahat, Kang Rudi menunjukkan bakat terpendam dia, yaitu… Ngesol tas carrier. Tas Carrier gue jadi bahan praktik. Kalau enggak ada Kang Rudi, bisa jadi gue gendong-gendong tas carrier sebelah doang, bisa ancur ini pundak.

perbaikan tas carrier
Adegan Sol Tas Carrier

Jalur Pendakian #2, Menyiksa.

Udah puas istirahat, selesai ngelihat adegan ngesol tas carrier. Kita lanjut ke trek Gunung Guntur yang se-sung-guh-nya. Waktu itu musim kemarau, gersang, panas, ada sih pohon, cuma 1 atau 2 yang jaraknya jauh-jauh, ditambah lagi debu, enggak cuma itu, ini treknya miring banget!

Trek menuju puncak Gunung Guntur

Puncaknya sih kelihatan deket, tapi pas mau digapai itu susah banget, kaya kamu, iya kamu! Rombongan yang tadinya jalan bareng-bareng, jadi tercecer. Gue sebagai salah satu lelaki disitu (cie ileh) berusaha ngedampingin 3 orang perempuan yang entah kenapa, mereka jadi lebih cepat dari sebelumnya, semacam kaya ada obral baju 80% di puncak Gunung Guntur, harus cepat supaya enggak kehabisan.

Total 8 jam pendakian Gunung Guntur yang harus gue tempuh. Buset dah, gue naik Gunung Gede yang tingginya hampir 3000 mdpl aja cuma 6-7 jam, ini Gunung Guntur tingginya 2249 mdpl 8 jam. Gila. Eits, tunggu dulu, 8 jam itu baru sampai puncak 1, sedangkan gue nge-camp di puncak 2 dan kabarnya ada beberapa bukit lainnya di Gunung Guntur ini, istilahnya puncak 3 dan puncak 4. Emang benar-benar mantab dah, kecil-kecil cabe rawit. Btw, kalau nge-camp di puncak 2 itu bisa diatas uap panas yang muncul dari tanah, dingin tapi hangat, hangat tapi dingin, gimana sih? Dan juga masih dapat sinyal, bisa update path sekali gue.

Puncak 2 Gunung Guntur

Finally, namanya juga pendaki, mau capek gimana juga selalu aja senang kalau udah sampai puncak. Jangan tanya pemandangannya… Tjakep! Lihat dibawah!

Sunraise di Gunung Guntur
Sunraise
Gunung Cikuray dari Gunung Guntur
Terlihat puncak cikuray
Bukit-bukit di GUnung Guntur
Bukit-bukit
Gununug Papandayan dari Gunung Guntur
Terlihat Papandayan

Perosotan Waktu Turun Gunung Guntur

Naiknya 8 jam, turunnya enggak sampai 2 jam. Aaaah, sialan emang. Gue naik bisa diartikan harus sampai ngerangkak-rangkak, ini gue turun udah kaya perosotan. Note ya, kalau turun Gunung Guntur kalian harus cari aliran pasir, pasti ada kok, disana kalian bisa loncat-loncat, hati-hati juga keguling (pengalaman), untungnya (untung terus gue ya) gue mendaki selalu pakai sepatu. Kalau enggak kaya temen gue makai sendal, kaki pada lecet. Wajar. Itu pasir isinya ada batu juga keles.

Trek Turun Gununug Guntur

Intinya sih, kenapa Gunung Guntur dijuluki teman gue sebagai miniatur Mahameru, mungkin karena itu. Trek terjal yang miringnya itu kaya jam 7 lewat 5 (lirik jam). Sampai-sampai Kang Oni yang bilang Gunung Guntur biasa aja, kalau diajak “Kapan ke Guntur lagi?” pasti dijawab “Enggak ah, kapok”. Hahaha.

Ingat selalu : Take nothing but pictures, Leave nothing but footprints, kill noting but love… Eh, time maksudnya 😀 @arstory

Terima kasih sudah membaca artikel "Gunung Guntur 2249 Mdpl Si Miniatur Mahameru". Jika artikel ini bermanfaat jangan lupa di share ya :). Baca juga artikel terkait "Gunung Guntur 2249 Mdpl Si Miniatur Mahameru".

Maaf ya, Menghindari modus spam dan sejenisnya, komen saya moderasi. Terimakasih ^_^

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*