Gunung Merbabu 3142 Mdpl via Selo : Memandang Sabana Yang Luas #2

Sunrise di gunung merbabu

Puncak Gunung Merbabu

Baca duluGunung Merbabu 3142 Mdpl via Selo : Memandang Sabana Yang Luas #1

***
“Ari… Jemput!!!” Jawab Kang Oni. Suaranya pelan tapi jelas, menandakan dia masih menuju ke Sabana 1 walau masih jauh.

“Lampu…Lampu…!” Teriak gua untuk mengetahui posisi mereka.
Oke, sudah tau posisi mereka gua langsung meluncur lagi ke bawah. Dengan sedal jepit gua berusaha ke bawah secepat mungkin dengan memotong jalan. Brukk…. Gua kepleset, gua sorot-sorot area sekitar dengan headlamp. Astaga, ini curam banget dan enggak mungkin gua lanjutin lewat sini.

Maksud hati mau mempercepat waktu, gua malah harus putar-balik, maju-mundur-maju-mundur-cantik, lhaa!. Selama perjalanan turun, beberapa kali gua minta kode lampu dari mereka untuk mengecek posisi lagi. Akhirnya… Kelompok 4 ditemukan, fiuuuh! (Buat-yang-enggak-nyambung-ceritanya-baca-cerita-sebelumnya).

Karena melihat gua yang udah dateng, Sugeng langsung gaspoll. “Tenda di Sabana 1, yang ada banner Backpacker Karawang” Jelas gua ke Sugeng karena dia juga bawa tenda dan tenda 1 lagi ada di Kang Oni.

“Kang Oni kenapa?”
“Enggak papa” Padahal muka dia waktu itu gua liat pucat, jalannya udah lemes.
“Oke, mana tas? Sini aku bawain”

Ini carrier berat juga, hampir sama beratnya sama carrier gua. Perjalanan naik ke Sabana 1 pun dimulai kembali, kembali-ke-laptop!

Singkatnya, gua sampai di Sabana 1 lagi dan setelah gua taruh carrier untuk dibongkar dan didirikan tendanya, napas gua sesak, tersengal, sedikti gemetar, apakah ini….. Ah, lupakan!. Padahal, gue belum pernah ngerasain ini sebelumnya. Gua pun langsung masuk tenda dan cari oksigen.

Jujur, ini kali pertama pakai oksigen. Yang ada di pikiran gua itu, bakal ada aroma apa gitu, bau rendang kek, sayur asem kek atau bau jengkol, ternyata enggak ada, biasa aja. Tapi ini sangat membantu. Nah, inilah pentingnya persiapan pendakian gunung yang harus disiapkan.

Semua sudah lengkap, drama menunggu waktu mau berangkat ke Gunung Merbabu terulang kembali ketika melakukan pendakian Gunung Merbabu. Sampai kapan? Sampai kapan aku harus menunggu?! (please deh, jangan lebay).

***

Gunung Merapi dari GUnung Merbabu
04.00
Brukk…brukk...
Suara apaan sih? Orang lagi enak-enak tidur. Setelah gua melebarkan mata dan mengumpulkan nyawa sepenuhnya, gua baru sadar. Ini waktunya untuk ke Puncak Merbabu.

“Bangun…Bangun… Muncak enggak?” rusuh gua di dalam tenda dan menjalar ke tenda-tenda lainnya. Sebenarnya sih gua fleksible, mau muncak hayuk enggak ya udah, tapi sih enaknya muncak aja, hahaha.

Semua sudah siap, sarapan, air minum hangat dan enggak lupa bawa tas kecil ajaib gua (di dalam tas ini ada banyak obat, dari obat ganteng, obat jomblo, obat sakit hati dan obat kenangan mantan) Kok jadi melankolis gini? Ah, lupakan. Isi tas ini lumayan penting untuk perjalanan yang enggak terlalu jauh dan enggak membawa beban banyak, P3K standar dan beberapa pelengkap lainnya.

“Kang Oni muncak enggak?”
“Enggak” jawab dia dari dalam tenda. Karena cewe-cewe pada mau muncak, yaudah akhirnya kami jalan menuju puncak tanpa Kang Oni dan Sugeng yang selalu setia menemani (ciee).

Cusss…

Sebelum ke Puncak Gunung Merbabu, dari Sabana 1 kita harus ke Sabana 2 dulu. Mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang (nyanyi).

Waktu matahari belum menyinari pagi itu, pemandangan yang indah dari Gunung Merbabu belum nampak. Pelan-pelan, cahaya mulai datang, bayang-bayang Gunung Merapi di seberang sana juga mulai jelas. Tegak berdiri, tangguh menanti, suatu saat gua akan kembali untuk memelukmu Merapi (sumpah ini lebaay).

Sunrise di gunung merbabu

Maksud hati mau sunrise di puncak, tapi apa daya kami akhirnya menikmati sunrise di perjalanan menuju puncak. Enggak papa, yang penting itu serunya, bareng-barengnya dan ng-alay-nya.

Sunrise di sabana Gunung Merbabu

Kalian tahu Teletubbies? Kalau kalian tahu, masa kecil kalian terselamatkan! Selamat!. Kalau di tayangan itu bukit-bukit hijaunya adalah buatan. Di Gunung Merbabu, kalian akan menikmatinya secara langsung dan nyata. Bukitnya, sabananya, duuh bikin enggak berhenti untuk bersyukur. Maasyaallah!

Sekitar jam 07.00 kami baru sampai di Puncak Kentang Songo Gunung Merbabu (Gunung Merbabu punya 2 puncak, yaitu Puncak Kenteng Songo dan Puncak Triangulasi). Jarak antara 2 puncak enggak jauh, jalan 5 menit sampai.

Puncak Kenteng Songo Gunung MerbabuPuncak Triangulasi Gunung Merbabu

Di Puncak Keteng Songo udah kaya pasar, dengan area yang enggak terlalu luas tapi dipenuhin tenda-tenda yang rapat. Di sana, gua cuma foto-foto sedikit abis itu udah. Gua lebih banyak duduk diam di tepian puncak yang menghadap ke 3 gunung (Gunung Sumbing, Gunung Sindoro dan Gunung Prau) yang terlihat kecil di sana. Dan gua juga enggak berhenti memandangi Gunung Merapi yang nampak jelas banget, kalau gua boleh menggambarkan pemandangan yang gua lihat waktu itu seperti lukisan pemandangan yang digambar. Tapi nyatanya enggak, ini nyata ada di depan mata gua.

Temen-temen gua yang lagi asik foto-foto, gua lebih asik memperhatikan burung-burung yang terbang bebas. Sesekali hinggap di ranting-ranting yang ada di depan gua. Duh, bagaimana mungkin kalian melewatkan melihat keindahan burung-burung itu. Gua enggak tau itu burung apa, soalnya belum kenalan waktu itu.

keindahan Gunung Merbabu

Gua terlalu terpesona dengan pemandangan Sabana yang luas yang ada di Gunung Merbabu. Sejauh mata memandang, hamparan luas hijaunya rerumputan membuat mata yang sering ‘mesum’ ini sedikit berkaca. Catatan! Memandang sabana yang luas di Gunung Merbabu mampu mengobati : rindu, galau, capek, pegal-pegal dan.. kesepian.

Sebenarnya gua bingung bagaimana gua menggambarkan keindahan alam yang gua nikmati waktu itu melalui kata-kata. Jadi, silahkan kalian nikmati melalui gambar-gambar di bawah ini aja ya.

Bukit di Gunung merbabu Gunung Sindoro, Sumbing, PRau Gunung MErapi Sabana Gunung Merbabu

Sudah puas nikmati pemandangan, foto ala-ala. Waktunya turun ke Sabana 1, sarapan, packing dan turun ke bawah kembali. Perjalanan turun lancar jaya, enggak ada drama-drama Korea lagi.

***
Dan… Akhirnya kami semua sampai ke rumah masing-masing dengan selamat dan membaca cerita. Semoga perjalanan kita kali ini membawa banyak makna. @arstory

DIBUANG SAYANG
“Bang, bang… Tendanya udah berdiri ya? Temen saya kedinginan nih, boleh numpang masuk tenda nggak? Saya baru sampe nih!” Sapa seseorang yang enggak gua tau namanya.
“Eh… Mana-mana?” Gua memastikan. Berhubung yang kedinginan cewe, ya silahkan, kalau cowo gua suruh duduk aja di atas kompor, Haha.
“Yaudah, sini-sini masuk, di dalem juga ada cewe-cewe!” Gua mempersilahkan.
“Makasih ya, bang”
Setelah itu cewe masuk, gua diluar sibuk bikin minuman hangat buat dia (modus-modus-modus) dan abis itu gua kasih ke dia. Berhubung di dalam tenda udah ada 4 cewe dan minuman hangat sudah ada, jadi insyaallah aman. Dan ceritanya selanjutnya adalah… cerita dimana gua menjemput Kelompok 4.

Belum kenalan, belum tau namanya, eeeh pas balik sampai di tenda setelah jemput Kelompok 4 tuh cewe udah enggak ada. Duuuh, berharap esok pagi dia datang ke tenda kami dan menyapa, ternyata tidak. Duuuuh, duuuh, duuuh. Gua yang ngarep atau dia yang enggak peka? 😀

Terima kasih sudah membaca artikel "Gunung Merbabu 3142 Mdpl via Selo : Memandang Sabana Yang Luas #2". Jika artikel ini bermanfaat jangan lupa di share ya :). Baca juga artikel terkait "Gunung Merbabu 3142 Mdpl via Selo : Memandang Sabana Yang Luas #2".

Maaf ya, Menghindari modus spam dan sejenisnya, komen saya moderasi. Terimakasih ^_^

5 Comments

  1. dulu tahun 1999, gue pernah kesini via jalur tekelan kopeng,,kembali lagi taun 2012 via kopeng tapi tekelan udh ga ada,,salam lestari kawan2

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*