Cerita Ngenes Pendakian Gunung Prau 2.565 Mdpl

Gunung Prau 2.565 Mdpl. Yaps, ini adalah salah satu cerita dari perjalanan kami di Dieng, Wonosobo. Yaitu, cerita pendakian Gunung Prau yang tingginya itu gak tinggi-tinggi amat sih, cuma 2.565 mdpl. Gunung Prau ini memang menjadi salah satu tempat favorit para pendaki untuk mencari gumpalan awan di Jawa Tengah.

Sebenernya, Gunung Prau ini cukup tinggi, tapi terasa sangat mudah karena semua pendakian Gunung Prau ini dimulai dari dataran tinggi Dieng yang kalau enggak salah itu rata-rata ketinggiannya udah 2000-an mdpl. Jadi enggak terlalu kerasa capek nya pendakian itu seperti apa. Apalagi disini aku dan rombongan mengambil jalur pendakian via Patak Banteng.

Jalur pendakian Gunung Prau via Patak Banteng ini cukup menjadi tempat yang sangat di rekomendasikan untuk mendaki Gunung Prau. Kenapa? Jalur ini cepat, rata-rata lama pendakian yang melewati jalur ini cuma 3 jam. Cukup cepat untuk menuju area camp atau puncak, hmmm hampir sama sih ya kaya Gunung Papandayan.

Pendakian Gunung Prau

Setelah mengambil simaksi pendakian, jalur yang pertama kami jumpai adalah rangkaian anak tangga melewati rumah-rumah warga. Anak tangga ini akan menuju ke area perkebunan warga. Cukup membuat ngos-ngosan sih, padahal baru mulai ini napas udah kembang kempis aja. Setelah habis kami melewati perkebunan warga, barulah kami menghadapi trek-trek yang sesungguhnya. Terjal broo, licin lagi, untung aja gak hujan, kalau hujan, duuuh, ini jalur bisa jadi tempat perosotan deh. Enggak perlu aku ceritain deh detail jalurnya, ini jalur paling simpel, ikutin aja jalannya pasti sampai ke puncak, kebetulan kami sampai puncak memakan waktu 2 jam lebih-lebih dikit gitu.

Aku dan seorang teman sampai di puncak duluan. Karena kondisi awan mulai gelap, kabut mulai turun dan angin yang kuenceeng banget sampai ada bunyi-bunyinya gitu. Sebenarnya aku udah di puncak duluan, nungguin teman yang satu ini sekitar 15 menit karena dia yang bawa tenda. Eeeh, yang ditungguin ini malah asik ngobrol sama pendaki lainnya yang baru turun. Untung aja pas dia sampai puncak dapet hasil jarahan, kopi siap makan.

 

Udah puas dengan jalan-jalan cantik di puncak, sambil nunggu yang lain sampai. Kami ber-2 langsung berniat mendirikan tenda, karena kabut sudah semakin tebal dan angin semakin kuenceng. Tenda yang dibawa temen aku ini cukup unik, frem tendanya udah menyatu dengan tenda itu sendiri. Bukan frem yang seperti biasanya, bongkar-pasang.

Walhasil, karena berhubung ini tenda minjem juga. Kami sempet bingung, ini gimanaaa buka fremnya. Di puncak Gunung Prau waktu itu semakin sore angin semakin kenceng dan kabut semakin tebel. 30 menit kami berusaha diriin tenda tapi gak diri-diri. Badan udah mulai kedinginan, otak gak fokus antara atur napas biar gak dingin dengan berusaha buka kuncian frem supaya tenda bisa di berdirikan.

Teeeeek……
Alamaaaaak, 1 dari 4 sisi frem tenda patah.

Teeeeek……
Astagaaaa, 2 dari 4 sisi frem tenda patah.

Waktu frem-frem tenda ini udah patah, nih temen aku yang bawa tenda nya baru tau gimana cara buka kuncian frem tendanya. Telaaat beeud dah aah. Sampai waktu rombongan yang lain sampai, tenda kami belum berdiri juga. Karena apa? Yaitu tadi lah, frem tendanya patah, masih cari akal gimana bangunnya.

Singkatnya, dengan kekreatifan, tenda itu mampu berdiri tepat sebelum gelap benar-benar jatuh. Enggak tau deh, Gunung Prau waktu itu lagi enggak bersahabat banget mungkin. Kabut tebal, angin kencang kaya badai, ditambah nasib sial, tenda yang fremnya patah. Jadi, kami pun gak bisa beraktifitas di luar karena cuaca yang enggak memungkinkan. Sisanya, sepanjang malam aku dan 2 orang teman lainnya yang berada di dalam tenda yang patah, setia bergantian jagain tenda dan benerin tenda kalau sewaktu tenda kembali roboh. Ya, roboh. Karena frem yang cuma di sambung dengan ikatan-ikatan simpul ini gak kuat nahan angin yang kenceng banget diluar.

Pagi….

Tanpa sadar, kami terbangun karena sapaan Matahari. Waktu buka mata, ternyata semua pada ketiduran berselimutkan tenda yang atapnya sampai ke muka. (bisa dong bayangin).

Memang betul, sunrise di Puncak Gunung Prau ini sangat-sangat indah. Ditambah pemandangan gumpalan awan dan 2 puncak gunung (Gunung Sindoro & Gunung Sumbing) yang berada berdekatan dengan Gunung Prau ini. Tapi sayang, 2 puncak Gunung lainnya yang kalau dilihat seperti rumah-rumah diatas awan ini tertutup dengan kabut. Fiiuh, padahal pemandangan ini yang dicari.

Enggak banyak yang rombongan kami lakukan di pagi yang tidak beruntung itu. Taaapi, tetep masih ada untungnya deeng. Karena kami mendaki di hari kerja, di puncak Gunung Prau seakan milik kami aja (cie ileeh, romantis). Karena yang camp cuma 4 tenda (2 tenda dari kami dan 2 lagi dari orang lain), kalau enggak salah.

Perut udah kenyang, udah poto-poto cantiik, eh salah ganteng, udah beres-beres, kami langsung turun. Tadinya mau turun via Patak Banteng lagi. Tapi, karena pengen tau jalur pendakian Gunung Prau via Dieng, kami pun turun via Dieng.

Pendakian Gunung Prau, Antara via Dieng atau Via Patak Banteng

Yang kata orang jalur pendakian Gunung Prau via Dieng itu landai, bohooong banget. Ya, memang kita akan menikmati jalur landai ketika sudah dekat pemancar. Disitu treknya memang landai sampai ke tempat yang namanya Bukit Teletubbies. Nah, dari bukit Teletubbies ke Puncak Gunung Prau kan gak jauh-jauh amat tuh, trus memang treknya landai.

Tapiiii, karena berhubung waktu itu kami turun. Tetep aja kan kerasa gimana sih trek Gunung Prau via Dieng ini, tetep aja terjal-terjal juga. Udah gitu, jauh pula treknya, karena kita bakal mengitari bukit-bukit. Selama 4 jam perjalanan kami turun melewati jalur Dieng ini. Memang, view yang dijanjikan di jalur Dieng ini lebih-lebih wah dari jalur Patak Banteng.

Singkatnya, kami menyesal memilih turun melalui jalur Dieng. Tetep, walau gimana juga, setiap perjalanan pendakian pasti memberi kita pejalaran. Selalu ada makna dari setiap cerita.

Boleh pantun eh puisi eh pantun, eh apalah pokoknya…

Kau, gunung berkata “Kenapa kau mendaki?”
Karena aku ingin mencari
“apa yang kau cari?”
Sebuah pelajaran dari bumi

Sekian dulu cerita tentang pendakian Gunung Prau ini. Tetep ya, lesatarikan alam, bawa turun setiap sampah yang kau bawa naik. 🙂 – Arstory.net

Terima kasih sudah membaca artikel "Cerita Ngenes Pendakian Gunung Prau 2.565 Mdpl". Jika artikel ini bermanfaat jangan lupa di share ya :). Baca juga artikel terkait "Cerita Ngenes Pendakian Gunung Prau 2.565 Mdpl".

Maaf ya, Menghindari modus spam dan sejenisnya, komen saya moderasi. Terimakasih ^_^

8 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*